Sutojayan District in Blitar Regency, which is traversed by the Bogel River Basin (DAS), is an area that is highly vulnerable to flooding due to a combination of flat topography, extreme rainfall intensity, and massive land use changes. This study aims to map in detail the flood-prone areas in the Bogel Watershed as a structural mitigation effort. The research method uses a quantitative approach that integrates hydrological analysis in three Sub-DAS (Bacem, Lodoyo, and Judeg) with spatial hydraulic modeling using HEC-RAS 2D software and Geographic Information Systems (GIS) in various return period scenarios (Q2, Q5, Q10, Q25, Q50, and Q100). The results of the hydrological analysis show a significant increase in flood discharge as the return period increases, for example in the Bacem Sub-DAS from 69.28 m³/second (Q2) to 174.61 m³/second (Q100). Spatial modeling confirmed that the flood inundation area expanded from 4.98 km² in Q2 to 10.98 km² in Q100. The affected areas in the initial scenario included eight villages (Bacem, Jingglong, Kalipang, Kedungbunder, Pandanarum, Sutojayan, Sukorejo, and Sumberjo), and extended to Jegu and Kembangarum during the extreme return period. The main conclusion confirms that the integration of HEC-RAS and GIS has proven effective in predicting flood distribution accurately, making it crucial for use as a database for spatial planning and disaster mitigation in Sutojayan District. ABSTRAK Kecamatan Sutojayan di Kabupaten Blitar, yang dilalui oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Bogel, merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap bencana banjir akibat kombinasi topografi datar, intensitas curah hujan ekstrem, dan masifnya perubahan tata guna lahan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan secara detail area rawan genangan banjir pada DAS Bogel sebagai upaya mitigasi struktural. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang mengintegrasikan analisis hidrologi pada tiga SubDAS (Bacem, Lodoyo, dan Judeg) dengan pemodelan hidraulika spasial menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 2D dan Sistem Informasi Geografis (SIG) pada berbagai skenario kala ulang (Q2, Q5, Q10, Q25, Q50, dan Q100). Hasil analisis hidrologi menunjukkan lonjakan debit banjir yang signifikan seiring bertambahnya kala ulang, misalnya pada SubDAS Bacem dari 69,28 m³/detik (Q2) menjadi 174,61 m³/detik (Q100). Pemodelan spasial mengonfirmasi bahwa luas genangan banjir berekspansi dari 4,98 km² pada Q2 hingga mencapai 10,98 km² pada Q100. Wilayah terdampak pada skenario awal meliputi delapan desa (Bacem, Jingglong, Kalipang, Kedungbunder, Pandanarum, Sutojayan, Sukorejo, dan Sumberjo), dan meluas hingga Jegu serta Kembangarum pada kala ulang ekstrem. Simpulan utama menegaskan bahwa integrasi HEC-RAS dan SIG terbukti efektif memprediksi sebaran banjir secara akurat, sehingga sangat krusial digunakan sebagai basis data tata ruang dan mitigasi bencana di Kecamatan Sutojayan.