Latar Belakang: Status gizi merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, termasuk kemampuan motorik. Balita berada pada masa golden age sehingga membutuhkan kecukupan gizi dan stimulasi agar perkembangan motorik halus maupun kasar berjalan optimal. Di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan, sebagian besar balita memiliki status gizi baik, namun masih ditemukan balita dengan penyimpangan perkembangan motorik. Hal ini menunjukkan perlunya kajian mengenai pengaruh status gizi terhadap kemampuan motorik balita. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara status gizi dan kemampuan motorik anak balita di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan, Jakarta Selatan serta tinjauannya dalam perspektif Islam. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 12–59 bulan di Posyandu Duku. Sampel berjumlah 40 responden yang diperoleh dengan metode quota sampling. Instrumen penelitian meliputi pengukuran antropometri (BB/U dan TB/U) untuk menilai status gizi serta Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) untuk menilai kemampuan motorik balita. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi baik (82,5%) dan kemampuan motorik sesuai (72,5%). Uji Spearman Rank menunjukkan nilai koefisien korelasi r = –0,103 dengan p = 0,528 (p > 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan kemampuan motorik balita. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan kemampuan motorik balita di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan, Jakarta Selatan. Perkembangan motorik balita diduga lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti stimulasi orang tua, lingkungan, dan pola asuh.