Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Eksplorasi Gender Dalam Seni Ketuk Tilu: Implikasinya Dalam Pendidikan Dan Budaya Masyarakat Priangan: Indonesia Reffali, Soni; Suharti, Etti; Hidayah, Yully; Sukarna Diputra, Agus
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36928/jpkm.v18i1.2555

Abstract

Ketuk tilu sebagai seni pertunjukan tradisional Priangan mengalami transformasi signifikan dari ritual kesuburan agraris menjadi hiburan rakyat, menciptakan ruang negosiasi gender yang kompleks melalui interaksi ronggeng dan pamogoran. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi representasi dan relasi gender dalam seni ketuk tilu serta menganalisis implikasinya terhadap praktik pendidikan dan dinamika sosial-budaya masyarakat Priangan kontemporer. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian menganalisis sumber primer dan sekunder periode 2000-2025 melalui pendekatan hermeneutik dengan tahapan klasifikasi tematik, analisis kritis, interpretasi kontekstual, dan perumusan implikasi. Hasil penelitian mengungkapkan ambivalensi simbolik ronggeng yang dihormati sebagai mediator spiritual sekaligus terstigmatisasi, dengan tubuh perempuan menjadi lokus kontestasi antara otoritas personal dan kontrol sosial. Elemen-elemen simbolik seperti selendang, gerak pinggul, dan struktur spasial pertunjukan merefleksikan konstruksi gender dalam masyarakat Sunda. Transformasi historis menunjukkan degradasi status ronggeng pada masa kolonial dan proses "domestikasi" pasca-kemerdekaan, sementara era kontemporer memunculkan reinterpretasi kritis yang menantang stereotip gender tradisional. Dalam konteks pendidikan, ditemukan kesenjangan pengintegrasian perspektif gender dalam kurikulum, meskipun muncul inisiatif inovatif berbasis komunitas yang mengembangkan pendekatan pembelajaran berperspektif gender. Studi ini menyimpulkan bahwa ketuk tilu dapat menjadi medium strategis untuk menegosiasikan identitas gender dalam masyarakat Priangan yang bertransformasi, dengan rekomendasi pengembangan kurikulum pendidikan seni yang memasukkan analisis kritis terhadap dimensi gender serta kolaborasi lintas-sektor dalam revitalisasi seni tradisional yang lebih inklusif. Kata kunci: Ketuk Tilu, Ronggeng, Representasi Gender, Pendidikan Seni, Budaya Priangan Ketuk tilu as a traditional performing art from Priangan has undergone significant transformation from an agrarian fertility ritual to popular entertainment, creating complex gender negotiation spaces through interactions between ronggeng (female dancers) and pamogoran (male dancers). This research aims to explore gender representation and relations in ketuk tilu art and analyze their implications for educational practices and socio-cultural dynamics of contemporary Priangan society. Using a qualitative approach based on library research, this study analyzes primary and secondary sources from 2000-2025 through hermeneutic interpretation with stages of thematic classification, critical analysis, contextual interpretation, and formulation of implications. Results reveal the symbolic ambivalence of ronggeng who are respected as spiritual mediators while simultaneously stigmatized, with the female body becoming a locus of contestation between personal authority and social control. Symbolic elements such as scarves, hip movements, and spatial structures of performances reflect gender constructions in Sundanese society. Historical transformation shows degradation of ronggeng status during colonial periods and "domestication" processes post-independence, while the contemporary era brings critical reinterpretations challenging traditional gender stereotypes. In educational contexts, gaps in integrating gender perspectives into curricula were found, although innovative community-based initiatives have developed gender-responsive learning approaches. This study concludes that ketuk tilu can serve as a strategic medium for negotiating gender identity in transforming Priangan society, with recommendations for developing arts education curricula that incorporate critical analysis of gender dimensions and cross-sector collaboration in revitalizing more inclusive traditional arts. Keywords: ketuk tilu, ronggeng, gender representation, arts education, Priangan culture