ABSTRACT Malnutrition in geriatric patients is not detected early and associated with increased length of hospital stay and mortality. This study aimed to evaluate the effectiveness of the Mini Nutritional Assessment (MNA), Body Mass Index (BMI), Mid Upper Arm Circumference (MUAC), and Subjective Global Assessment (SGA) in determining the nutritional status of geriatric patients at Dr. H. Moch. Ansari Saleh General Hospital, Banjarmasin. The study used an observational design with a cross sectional approach and involved 70 patients aged ≥65 years selected by purposive sampling. Differences between methods were analysed using the Kruskal–Wallis and Mann–Whitney tests, and effectiveness was assessed through sensitivity, specificity, and accuracy. The results showed that the highest prevalence of malnutrition was identified by MNA and MUAC, whereas BMI yielded the lowest proportion. There were significant differences among MNA, BMI, MUAC, and SGA (p = 0.001). MNA had the highest sensitivity (97.56%) and accuracy (78.57%) in detecting malnutrition compared with the other three methods. Therefore, MNA was considered effective and can be recommended as one of the nutritional screening tools for geriatric patients in hospital settings. Keywords: Effectiveness, Instrument, Nutritional Status, Geriatric. ABSTRAK Malnutrisi pada pasien geriatri masih sering tidak terdeteksi secara dini dan berkaitan dengan peningkatan lama rawat inap serta mortalitas. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas Mini Nutritional Assessment (MNA), Indeks Massa Tubuh (IMT), Lingkar Lengan Atas (LILA), dan Subjective Global Assessment (SGA) dalam menentukan status gizi pasien geriatri di RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Desain penelitian yang digunakan adalah studi observasional dengan pendekatan cross sectional dengan total responden sebanyak 70 pasien usia ≥65 tahun yang dipilih secara purposive sampling. Pada penelitian ini dilakukan uji beda menggunakan kruskal wallis dan mann witney, serta uji efektifitas meliputi: sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi. Hasil menunjukkan identifikasi prevalensi malnutrisi tertinggi diperoleh dari MNA dan LILA, sedangkan IMT memberikan proporsi terendah. Terdapat perbedaan bermakna antara MNA, IMT, LILA, dan SGA (p=0,001). MNA memiliki sensitivitas (97.56%) dan akurasi (78.57%) tertinggi dalam mendeteksi malnutrisi dibanding ketiga metode lainnya. MNA dinilai efektif sehingga dapat direkomendasikan sebagai salah satu alat skrining gizi untuk pasien geriatri yang baik digunakan di rumah sakit. Kata Kunci: Efektivitas, Instrumen, Status Gizi, Geriatri.