Mayasari
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS PRAKTEK PENAFSIRAN AL-QUR’AN: Analisis Penafsiran As-Sa’di dan Ali Al-Shabuni dalam Surat Al-Ahzab ayat 33 Valentina Zahara; Syafruddin; Aina Marfuzah; Annisa Rahmida; Mayasari
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2026): Volume 11 No. 04 Desember 2025 In Build
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.9207

Abstract

Praktek penafiran al-Qur’an yang dipraktekkan oleh para mufasir yang timbul beraneka ragam caranya dari masa-kemasa, tentu hal tersebut dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, sosial, budaya yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengupas model-model penafsiran yang dipraktekkan oleh para mufasir, diantara As-Sa’di dan Ali Al-Shabuni. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitiannya adalah penelitian pustaka (Library Research) yang sumber data utamanya dari bahan pustaka dengan menelaah informasi dan referensi yang telah ditemukan oleh para ahli sebelumnya, dengan pendekatan deskriptif yang akan mengurai serta menganalisis praktik penafsiran As-Sa’di dan Ali Al-Shabuni. Pada bagian awal penulisannya As-Sa’di beliau memaparkan Muqaddimah, kemudian awal surah beliau sebelum mulai menafsirkan sebuah surah selalu menuliskan nama surah yang akan ditafsirkan dan juga tempat turunnya, selanjutnya di halaman-halamannya memaparkan ayat-ayat secara lengkap satu halaman seperti yang tertera dalam Al-Qur’an yang dipaparkan pada pojok atas kitab tafsirnya, lalu menjelaskan tafsiran penggalan ayat secara Ijmali dan tidak memaparkan riwayat-riwayat lain mengenai ayat tersebut sehingga tafsir beliau sumber penafsirannya bil Ra’yi yang ia pahami maknanya dari suatu ayat. Diakhir penafsirannya selalu menutupnya dengan kalimat تم تفسير سورة – والحمد لله رب العالمين (disebutkan nama surahnya), kemudian ditutup dengan kalimat pujian kepada Allah). Sedangkan dalam karyanya Ali Al-Shabuni dalam Shafwat at-Tafasir juga memaparkan kata Muqaddimah dijilid 1, awal surah beliau menjelaskan penjelasan ayat, tempat turun, Penamaan surah, aspek bahasa, asbabun Nuzul dari Surah Al-Ahzab. Di tiap halamannya mulai menuliskan tafsirannya setelah mencantumkan potongan-potongan ayat atau keseluruhan ayat kemudian dipenggal-penggal dalam menjelaskan tafsiran ayat tersebut, dengan Metode tahlili atau analitis kemudian memaparkan riwayat-riwayat dari ulama lainnya, sepert Qotadha, Ibnu Khatsir dan lainnya sehingga tafsir beliau sumber penafsirannya bil Riwayat atau bil Ma’sur. Penutupan surah beliau selalu menutupnya dengan kalimat تم بعونه تعالى تفسير سورة (disebutkan nama surahnya).
KEPEMIMPINAN NON MUSLIM MENURUT QURAISH SHIHAB DALAM KONTEKS NEGARA MODERN Oldha Fauzia; Yulia Pratami Putri; Mayasari; Yesa Gusra Saputri
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 01 (2026): Volume 12 No. 01 Maret 2026 Publish
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i01.11663

Abstract

The issue of non-Muslim leadership has become a problematic discourse in the context of interreligious relations in Indonesia, particularly for Muslims in managing socio-political and religious interactions with non-Muslim communities. This problem arises from the tension between the state constitution, which guarantees equal political rights for all citizens, and certain textual interpretations of the Qur’an that are often understood as prohibiting non-Muslim leadership. As the country with the largest Muslim population in the world, Indonesia faces a unique situation in which Muslims adhere both to the national constitution and to religious principles derived from the Qur’an. This study aims to identify the Qur’anic verses used by M. Quraish Shihab in discussing the issue of non-Muslim leadership, to analyze his interpretation of these verses, and to examine his views on non-Muslim leadership in the contemporary context. The research employs a qualitative approach based on contemporary Qur’anic exegesis, using a descriptive-analytical method to examine primary and secondary sources related to Quraish Shihab’s interpretations. The findings indicate that Quraish Shihab does not view the relevant Qur’anic verses as establishing an absolute and universal prohibition against non-Muslim leadership. Instead, he interprets them contextually, considering their historical background and socio-political circumstances. In the context of modern Indonesia, Quraish Shihab argues that appointing a non-Muslim leader is permissible as long as it brings public benefit (maslahah) and does not result in harm or injustice. However, he maintains that Muslims should ideally prioritize leaders from among the believers, while still acknowledging the legitimacy of non-Muslim leadership under certain conditions in a pluralistic society.