Artikel ini membahas peran guru sebagai agen perubahan dalam mendorong inklusi dan kesetaraan gender di lingkungan pembelajaran. Masalah utama yang diidentifikasi adalah masih adanya praktik pembelajaran yang bias gender, stereotip yang tidak disadari, serta keterbatasan pengetahuan pendidik dalam menerapkan pendekatan yang sensitif terhadap keberagaman. Kondisi ini berdampak pada partisipasi, dan hasil belajar antara peserta didik laki-laki dan perempuan, serta kelompok gender lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji sejauh mana guru dapat berperan sebagai transformasi sosial melalui strategi pedagogis yang inklusif, sekaligus mengidentifikasi praktik-praktik efektif yang dapat mendukung terciptanya kesetaraan gender di kelas. Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada sekolah menengah yang telah menerapkan program pendidikan inklusif berbasis gender. Subjek penelitian terdiri dari guru-guru Menengah Pertama Pemilihan subjek dilakukan dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi kelas, serta analisis dokumen kebijakan sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru yang memiliki pemahaman memadai tentang isu gender dan memperoleh dukungan institusi mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih setara. Praktik yang terbukti efektif meliputi penggunaan bahasa yang tidak bias, pemilihan materi ajar yang representatif, pembagian peran yang adil dalam aktivitas kelompok, serta penerapan metode pembelajaran partisipatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa guru memiliki peran penting dalam menumbuhkan budaya sekolah yang inklusif, dan penguatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan menjadi kunci untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam proses pembelajaran.