Kharisma Firdaus
Universitas Sunan Gresik

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGUATAN SIKAP DEMOKRATIS MELALUI PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DENGAN MATERI NILAI-NIALI PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DIDUKUNG MANAJEMEN KELAS (GROUP SEATING) DAN SUPERVISI AKADEMIK UNTUK INTERAKSI BELAJAR YANG INKLUSIF PADA SISWA KELAS V SDN NGADIREJO Danang Saputra; Dwi Nur Nikmah; Kharisma Firdaus
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2025): Volume 11 No. 04 Desember 2025 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.10211

Abstract

This study aims to strengthen students’ democratic attitudes through the implementation of Problem Based Learning (PBL) on the topic of Pancasila Values, supported by group seating classroom management and academic supervision to create inclusive learning interactions in Grade V of SDN Ngadirejo. This research employed a descriptive qualitative approach using observation, interviews, and documentation as data collection techniques. The participants consisted of 23 students, including 8 boys and 15 girls. The research instruments included an observation sheet for democratic attitudes, a checklist for inclusive interaction, an assessment sheet for PBL implementation, and an academic supervision form. The findings indicate that the use of authentic problems in PBL effectively increases equal participation in group discussions, enhances students’ respect for differing opinions, and encourages decision-making through deliberation. The application of group seating successfully fostered more collaborative group dynamics, enabling students to interact more openly and supportively. Additionally, academic supervision helped teachers refine facilitation strategies, strengthen classroom management, and ensure that learning interactions remained inclusive for all students. Overall, the study concludes that the synergy between PBL, collaborative classroom management, and academic supervision is effective in promoting a democratic and inclusive learning culture in elementary schools.
Transformasi dan Fragmentasi Gerakan Islam Indonesia Pasca Pemilu 2024 Kharisma Firdaus; Muhammad Mukhobbir Risalah; Arzeti Bilbina Setyawan
Politik Islam Vol. 5 No. 1 (2026): Politik Islam
Publisher : UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/pi.v5i1.16772

Abstract

Artikel ini menyelidiki transformasi dan fragmentasi gerakan Islam di Indonesia pasca Pemilu 2024. Meskipun studi yang ada sebagian besar berfokus pada puncak mobilisasi Islamis selama 2016–2019, terutama gerakan 212, perhatian akademis terhadap perkembangan di periode pasca-2024 masih terbatas. Menggunakan metodologi kualitatif dengan desain studi kasus kolektif, penelitian ini mengacu pada dokumen organisasi, liputan media, materi digital, dan sumber sekunder yang mencakup periode 2014–2025. Kerangka analitis menggabungkan Struktur Peluang Politik, Teori Mobilisasi Sumber Daya, Teori Pembingkaian, Institusionalisasi, dan Pasca-Islamisme. Temuan menunjukkan bahwa gerakan Islam setelah 2024 tidak mengalami penurunan secara langsung; sebaliknya, mereka menunjukkan proses transformasi struktural dan fragmentasi internal. Konsolidasi elit politik nasional dan penyempitan ruang politik oposisi telah secara signifikan mengurangi mobilisasi berbasis identitas skala besar. Sebagai tanggapan, aktor-aktor gerakan telah menyesuaikan kembali strategi mereka, beralih dari demonstrasi jalanan yang konfrontatif menuju bentuk-bentuk keterlibatan yang lebih pragmatis, termasuk aktivisme digital, advokasi yang berorientasi pada kebijakan, dan integrasi selektif ke dalam partai politik dan lembaga negara. Selain itu, pembingkaian isu telah bergeser dari identitas agama dan keluhan moral ke keprihatinan sosial-ekonomi, tata kelola, dan moralitas publik yang lebih luas. Studi ini berpendapat bahwa periode pasca-2024 mewakili konfigurasi ulang yang lebih luas dari aktivisme Islam dalam demokrasi elektoral Indonesia yang semakin terkonsolidasi. Alih-alih menghilang, gerakan-gerakan Islam telah melakukan diversifikasi secara adaptif, menandai transisi menuju lingkungan pasca-polarisasi yang lebih pragmatis dan terdiferensiasi secara internal.