Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencapai indeks literasi tertinggi di Indonesia, dengan nilai IPLM atau Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat 83,39 (2024), jauh di atas rata-rata nasional 73,52 pada tahun 2024. Namun, berdasarkan survei Badan Pusat Statistik masih banyak daerah yang indeks literasinya di bawah rata-rata. Perlunya gambaran pembelajaran di DIY agar menjadi contoh bagi daerah dengan tingkat literasi yang rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan lagu daerah dalam P5 terhadap literasi budaya dan literasi musik. Metode kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimental digunakan, melibatkan 60 siswa dari sekolah menengah atas di Yogyakarta, dibagi rata menjadi kelompok eksperimen (menggunakan lagu daerah) dan kelompok kontrol (menggunakan lagu populer). Perawatan terdiri dari empat sesi yang berfokus pada eksplorasi musik, analisis, aransemen, dan pertunjukan. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang divalidasi yang mengukur literasi budaya dan literasi musik, dan dianalisis menggunakan Multivariate Analysis of Variance (MANOVA). Hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang signifikan dari pembelajaran berbasis lagu rakyat baik terhadap literasi budaya (sig = 0,025) maupun literasi musik (sig = 0,011), dengan efek simultan yang dikonfirmasi oleh Lambda Wilks (sig = 0,027). Temuan ini menunjukkan bahwa mengintegrasikan warisan musik lokal ke dalam pembelajaran berbasis proyek meningkatkan kesadaran budaya, keterampilan musik, dan pengembangan karakter kolaboratif siswa, sejalan dengan tujuan kurikulum P5. Penelitian ini menyoroti potensi edukasi lagu daerah sebagai media yang bermakna untuk pembelajaran yang kontekstual dan berorientasi pada literasi budaya dan literasi musik.