Siti Sofati
Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Gotong Royong Sebagai Modal Sosial: Respons Kepemimpinan Terhadap Kebijakan Akreditasi di Sekolah Dasar Pinggiran Kota Siti Sofati; Viddaroin Azimul Choeri; Sugeng Haryadi; Siswadi
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 15 No. 1 Februari (2026): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.3646

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran gotong royong sebagai bentuk modal sosial dalam kepemimpinan sekolah dasar pinggiran dalam merespons kebijakan akreditasi nasional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif, dilaksanakan di dua Sekolah Dasar Negeri di wilayah pinggiran Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Partisipan penelitian meliputi dua kepala sekolah, enam guru, empat perwakilan komite sekolah atau orang tua, dan dua tokoh masyarakat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik deskriptif melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; a) keterbatasan sumber daya ekonomi mendorong kepala sekolah untuk mengaktifkan modal sosial sebagai strategi pemenuhan standar akreditasi, b) Modal sosial internal (bonding social capital) diwujudkan melalui solidaritas dan komitmen guru yang dimobilisasi lewat kepemimpinan teladan dan relasional, c) Modal sosial eksternal (bridging social capital) diaktifkan melalui praktik gotong royong masyarakat yang mengonversi relasi sosial menjadi dukungan tenaga dan sarana prasarana sekolah tanpa menimbulkan resistensi sosial, d) Selain itu, pemanfaatan tokoh masyarakat dalam proses visitasi mencerminkan peran modal sosial simbolik (symbolic social capital) sebagai sumber legitimasi moral atas keberadaan dan fungsi sekolah di tengah keterbatasan teknis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kepemimpinan sekolah dasar di wilayah pinggiran tidak hanya bersifat administratif, tetapi sangat ditentukan oleh kemampuan membangun kepercayaan, relasi sosial, dan pemanfaatan nilai budaya lokal. Temuan ini mengimplikasikan perlunya kebijakan akreditasi yang lebih sensitif terhadap konteks sosial dan kultural sekolah, serta pengakuan terhadap modal sosial sebagai sumber daya strategis dalam tata kelola pendidikan dasar.