Industri tenun ikat tradisional di Desa Parengan, Lamongan, merupakan warisan budaya bernilai tinggi, namun menghadapi tantangan kompleks seperti keterbatasan akses pasar, minimnya literasi digital, dan ketergantungan pada pemasaran konvensional. Analisis situasi menunjukkan bahwa 85% pengrajin hanya menjual produk secara lokal dengan margin keuntungan rendah, sementara potensi pasar global belum tergarap optimal. Permasalahan prioritas meliputi: (1) kurangnya pengetahuan tentang e-commerce, (2) keterbatasan infrastruktur teknologi, (3) manajemen produksi tradisional yang tidak efisien, serta (4) kekhawatiran akan keamanan transaksi online. Kegiatan pengabdian ini menerapkan metode partisipatif melalui lima tahap: (1) pelatihan intensif literasi digital bagi 30 pengrajin, (2) pendampingan pembuatan platform e-commerce berbasis kearifan lokal, (3) implementasi sistem manajemen inventari digital, (4) workshop keamanan siber, dan (5) kolaborasi dengan influencer untuk branding produk. Hasil monitoring selama 6 bulan menunjukkan peningkatan signifikan: 72% pengrajin mampu mengoperasikan platform e-commerce secara mandiri, penjualan online meningkat 210%, serta terbentuknya 5 kelompok usaha berbasis digital. Pembahasan mengungkap bahwa sinergi antara pelestarian teknik tenun tradisional dengan adaptasi teknologi berhasil menciptakan model bisnis berkelanjutan. Tantangan utama adalah kesenjangan generasi dalam adopsi teknologi, yang diatasi melalui pendekatan pelatihan intergenerasi. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan pendapatan rata-rata pengrajin sebesar 45%, tetapi juga memperkuat posisi tenun ikat Parengan di pasar nasional melalui sertifikasi produk berbasis Indikasi Geografis