Muhammad Fahrul Zikri
Universitas Negeri Medan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Sebuah Studi Kasus Arkeologi dan Historiografi: Sejarah Meriam Puntung Felix Agrian Brahmana; Karel Cornelius Sinaga; Muhammad Fahrul Zikri; Yonathan Louis Pratama Lase; Wahyu Rinaldi Siahaan; Flores Tanjung
Journal of Constitutional, Law and Human Rights Vol 1, No 2 (2025): September 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jclhr.v1i2.5732

Abstract

Kesultanan Haru, sebuah kerajaan yang terletak di pulau Sumatra antara abad ke-13 dan ke-16 Masehi. Bukti dari sumber lokal dan internasional, termasuk catatan Dinasti Yuan tentang dekrit Kubilai Khan pada tahun 1282 Masehi yang menuntut penyerahan Haru, dan upeti Haru berikutnya pada tahun 1295 Masehi, menegaskan keberadaannya. Catatan Rasiduddin tahun 1310 Masehi selanjutnya mengidentifikasi Haru sebagai kota besar di pantai timur laut Sumatra. Ying-yai Sheng-lan (1416 Masehi) karya Ma Huan memberikan rincian tambahan, yang menggambarkan batas geografis Haru, komoditas perdagangan (kain katun, beras, biji-bijian, ternak, burung, susu asin, dan kemenyan), dan agama Islam dari penguasa dan rakyatnya. Penelitian ini selanjutnya meneliti "Meriam Puntung Putri Hijau", artefak penting dari Kesultanan Deli, menelusuri asal-usul legendarisnya dan perannya dalam pertempuran melawan Aceh. Kondisi meriam yang terfragmentasi melambangkan kehancuran kerajaan meskipun perlawanannya gagah berani. Lokasi meriam saat ini di Istana Maimun menyoroti pentingnya meriam sebagai objek wisata sejarah, yang menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat sekaligus menghadirkan tantangan dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Strategi pengelolaan yang efektif memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan pariwisata untuk memastikan pelestarian warisan sejarah ini dan makna budayanya.