Sekarini , Ni Nyoman Ayu Desy
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Antara Ukuran Lingkar Lengan Atas dan Indeks Massa Tubuh dengan Risiko Anemia pada Ibu Hamil Trimester Awal: The Relationship Between Upper Arm Circumference And Body Mass Index With The Incidence Of Anemia In First Trimester Pregnant Women Lionita, Ni Luh Erlya; Pratiwi, Putu Irma; Sekarini , Ni Nyoman Ayu Desy
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.702

Abstract

Anemia in pregnant women remains a public health problem that requires serious attention, especially in the first trimester when physiological changes begin to increase the need for iron. Nutritional status is a major factor associated with anemia in pregnant women. Assessment of nutritional status of pregnant women can be performed using Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) and Body Mass Index (BMI). However, data describing the relationship between MUAC and BMI and the incidence of anemia in pregnant women in the first trimester, particularly in midwifery practice, is still limited. Most studies still focus on the later trimester and are conducted in health facilities at the hospital and community health centers (Puskesmas). Therefore, research is needed to support early detection of anemia from early pregnancy. This study was conducted to examine the relationship between MUAC and BMI and the occurrence of anemia in pregnant women in the first trimester. This study applied a quantitative design with a descriptive analytical approach using a cross-sectional method. The population in this study included all pregnant women in the first trimester who visited the TPMB Putu Agustini in Tukadmungga Village, Buleleng Regency in 2025, totaling 91 respondents, with a total sample of 63 respondents determined using a purposive sampling technique. The data used were secondary data sourced from the antenatal care register. The instrument used in this study was an observation sheet or checklist used to record data from the register, including data on LiLA, BMI, and Hb levels of pregnant women. Data analysis was carried out through univariate and bivariate stages using the Fisher's Exact Test. The results of the study showed a significant relationship between LiLA and the occurrence of anemia (p = 0.014). In addition, a significant association was also found between BMI and anemia (p < 0.001). This study concluded that LiLA and BMI showed a significant relationship to anemia in pregnant women in the first trimester.   ABSTRAK Anemia pada ibu hamil hingga kini masih tergolong sebagai masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius, terutama pada trimester pertama ketika perubahan fisiologis mulai meningkatkan kebutuhan zat besi. Status gizi berperan sebagai faktor utama yang berkaitan dengan terjadinya anemia pada ibu hamil. Penilaian status gizi ibu hamil dapat dilakukan dengan menggunakan parameter Lingkar Lengan Atas (LiLA) dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Namun, data yang menggambarkan hubungan ukuran LiLA dan IMT terhadap kejadian anemia pada ibu hamil trimester I, khususnya pada pelayanan praktik mandiri bidan masih terbatas. Mayoritas studi masih memusatkan perhatian pada trimester lanjut serta dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat rumah sakit dan puskesmas. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mendukung deteksi dini anemia sejak awal kehamilan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan ukuran LiLA dan IMT terhadap terjadinya anemia pada ibu hamil trimester I. Studi ini menerapkan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik menggunakan metode cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh ibu hamil trimester I yang melakukan kunjungan ke TPMB Putu Agustini Desa Tukadmungga Kabupaten Buleleng pada tahun 2025 sebanyak 91 responden, dengan total sampel sebanyak 63 responden yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Data yang digunakan berupa data sekunder yang bersumber dari register pelayanan antenatal. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi atau checklist yang dipakai untuk mencatat data dari register, meliputi data LiLA, IMT, dan kadar Hb ibu hamil.  Analisis data dilakukan melalui tahap univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara LiLA terhadap terjadinya anemia (p = 0,014). Selain itu, ditemukan pula keterkaitan yang signifikan antara IMT terhadap anemia (p < 0,001. Penelitian ini menyimpulkan bahwa LiLA dan IMT menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap anemia pada ibu hamil trimester I.
Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng: Overview of Toddler Nutritional Status at Integrated Health Posts (Posyandu) in Selat Village, Buleleng Regency Badrawati, Ni Komang Aprilia; Pratiwi, Putu Irma; Sekarini , Ni Nyoman Ayu Desy
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4962

Abstract

Malnutrition among toddlers remains a major public health concern in Indonesia, marked by the coexistence of undernutrition and overnutrition. This study aimed to describe the nutritional status of toddlers using height-for-age, weight-for-height, and weight-for-age indicators at Integrated Health Posts (Posyandu) in Selat Village, Buleleng Regency . This study applied a descriptive quantitative design with a total sampling approach. All toddlers who attended Posyandu activities and were recorded during the study period were included. A total of 214 toddlers from six Posyandu in Selat Village were analyzed. Secondary data were obtained from routine Posyandu records, including age, sex, body weight, and height. Nutritional status was assessed using the World Health Organization Child Growth Standards, and Z-scores were calculated with WHO Anthro software. Data analysis was conducted univariately and presented in the form of frequency distributions and percentages. The findings showed that most toddlers were in the 24–59 months age group. Based on height-for-age, the majority of toddlers had normal growth status, although cases of stunting and severe stunting were still identified across all Posyandu. Assessment using weight-for-height indicated that most toddlers had normal nutritional status, while undernutrition, overweight, and obesity were also observed. Similarly, weight-for-age analysis revealed that most toddlers had normal body weight, but underweight and risk of overweight conditions remained present. These results indicate a double burden of malnutrition in Selat Village. Strengthening routine growth monitoring, improving the competence of health workers and Posyandu cadres in anthropometric assessment, and enhancing parental nutrition education are essential to prevent and manage nutritional problems among toddlers.   Abstrak Masalah gizi pada anak balita masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia, ditandai dengan masih ditemukannya kondisi stunting, wasting, underweight, serta overweight. Ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dan kebutuhan tubuh pada masa balita dapat berdampak pada hambatan pertumbuhan fisik, gangguan perkembangan kognitif, serta peningkatan risiko kesakitan dan kematian pada usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan status gizi balita berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), dan berat badan menurut umur (BB/U) di Posyandu Desa Selat, Kabupaten Buleleng. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling, yaitu melibatkan seluruh balita yang tercatat dan hadir pada kegiatan posyandu saat penelitian dilaksanakan. Jumlah sampel sebanyak 214 balita yang tersebar di enam posyandu, yaitu Posyandu Dauh Margi Srilestari II, Angsoka I, Melati, Mawar, Teratai, dan Sakura. Data diperoleh dari pencatatan kegiatan posyandu yang meliputi umur, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan balita. Penilaian status gizi dilakukan menggunakan standar antropometri WHO berdasarkan nilai Z-score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita berada pada kelompok usia 24–59 bulan. Berdasarkan indikator TB/U, mayoritas balita memiliki tinggi badan normal, namun masih ditemukan balita dengan kategori pendek dan sangat pendek di seluruh posyandu. Penilaian status gizi berdasarkan indikator BB/TB menunjukkan bahwa sebagian besar balita berada pada kategori gizi baik, meskipun masih terdapat balita dengan gizi kurang, gizi lebih, dan obesitas. Sementara itu, berdasarkan indikator BB/U, sebagian besar balita memiliki berat badan normal, namun masih dijumpai balita dengan berat badan kurang serta risiko berat badan lebih.
Hubungan Status Gizi Berdasarkan IMT dan Umur Menarche dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Kebidanan Fakultas Kedokteran Undiksha: The Association of Nutritional Status Based on Body Mass Index and Age at Menarche with the Incidence of Dysmenorrhea Among Midwifery Students at the Faculty of Medicine, Universitas Pendidikan Ganesha Sutiartini, Komang Putri Natia; Sekarini , Ni Nyoman Ayu Desy; Pratiwi, Putu Irma
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4966

Abstract

Dysmenorrhea is a common pain complaint experienced during menstruation among women of reproductive age and may affect daily activities, including academic performance among students. Nutritional status and age at menarche are biological factors that are theoretically associated with the occurrence of dysmenorrhea; however, previous studies have reported inconsistent findings. This study aimed to examine the relationship between nutritional status and age at menarche with the occurrence of dysmenorrhea among midwifery students at Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). This study employed a quantitative approach with an analytic cross-sectional design. The study population included all active midwifery students from the 2023, 2024, and 2025 cohorts. A total sampling technique was applied. Of the 177 students in the study population, 159 had complete data and were included in the analysis. Data were collected using a structured questionnaire developed by the researchers according to the study variables, including nutritional status, age at menarche, and dysmenorrhea, and distributed online via Google Forms. Nutritional status was determined based on body mass index (BMI) calculated from self-reported body weight and height. To minimize potential bias, respondents were provided with clear instructions for reporting their most recent measurements, and data screening was conducted to identify implausible values prior to analysis. BMI values were then categorized as underweight, normal, and overweight according to the World Health Organization (WHO) criteria. Data analysis was performed using descriptive statistics for univariate analysis and the Chi-square test for bivariate analysis. The results showed that most respondents experienced dysmenorrhea (68.6%). The majority of respondents had normal nutritional status (54.1%) and experienced menarche within the normal age range (84.9%). The Chi-square test indicated no significant association between nutritional status and dysmenorrhea (p = 0.547). Similarly, age at menarche was not significantly associated with dysmenorrhea (p = 0.931). Based on these findings, it can be concluded that nutritional status and age at menarche are not significantly associated with the occurrence of dysmenorrhea among midwifery students. Reproductive health promotion in educational settings should adopt a more comprehensive approach by addressing not only biological factors but also psychological aspects and healthy lifestyle behaviors. Midwifery students are encouraged to maintain healthy lifestyles, increase physical activity, and manage stress as non-pharmacological strategies to reduce dysmenorrhea. Future studies are recommended to explore other factors potentially associated with dysmenorrhea using broader study designs or multivariate analysis.   Abstrak Dismenore merupakan keluhan nyeri yang sering muncul selama menstruasi pada perempuan usia reproduktif dan dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan akademik pada mahasiswa. Status gizi serta umur menarche merupakan faktor biologis yang secara teoritis dikaitkan dengan terjadinya dismenore, meskipun hasil penelitian terdahulu masih memperlihatkan temuan yang beragam. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan umur menarche dengan kejadian dismenore pada mahasiswi kebidanan undiksha. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan survei analitik melalui desain potong lintang (cross sectional). Populasi penelitian mencakup seluruh mahasiswi jurusan Kebidanan angkatan 2023, 2024, dan 2025 yang berstatus aktif secara akademik. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Dari total 177 mahasiswi yang menjadi populasi penelitian, sebanyak 159 mahasiswi memiliki data lengkap dan dianalisis dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang disusun oleh peneliti sesuai dengan variabel penelitian, meliputi status gizi, usia menarche, dan kejadian dismenore, yang disebarkan secara daring melalui Google Form. Status gizi ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) yang dihitung dari data berat badan dan tinggi badan yang dilaporkan sendiri oleh responden, dengan upaya meminimalkan potensi bias melalui pemberian petunjuk pengisian yang jelas dan pemeriksaan kelogisan data sebelum analisis. Nilai IMT kemudian dikategorikan menjadi status gizi kurus, normal, dan lebih berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO). Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan statistik deskriptif dan secara bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden mengalami dismenore (68,6%). Mayoritas responden memiliki status gizi normal (54,1%) dan mengalami menarche pada rentang usia normal (84,9%). Hasil uji chi-square tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian dismenore (p = 0,547). Demikian pula, umur menarche tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian dismenore (p = 0,931). Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa status gizi dan umur menarche tidak berkaitan secara signifikan dengan kejadian dismenore pada mahasiswi kebidanan. Promosi kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya menekankan faktor biologis tetapi juga faktor psikologis dan gaya hidup sehat. Mahasiswi kebidanan disarankan untuk menerapkan pola hidup sehat, meningkatkan aktivitas fisik, serta mengelola stres sebagai upaya non farmakologis dalam mengurangi keluhan dismenore. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji faktor lain yang berpotensi berhubungan dengan dismenore menggunakan desain penelitian yang lebih luas atau analisis multivariat.