Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perlindungan Anak Di Ruang Digital: Tinjauan Pendidikan Islam Terhadap Kebijakan Pembatasan Usia Pengguna Media Sosial Novia Nasyomia; Rizky Dwi Pradana
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.5067

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola interaksi sosial anak dan remaja saat ini. Media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya menjadi ruang utama bagi generasi muda untuk berkomunikasi serta mengakses beragam informasi. Namun, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol juga seringkali menimbulkan berbagai risiko bagi anak, seperti paparan konten negatif, cyberbullying, eksploitasi digital, serta kecanduan teknologi. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menerbitkan kebijakan pembatasan usia pengguna media sosial sebagai bagian dari upaya perlindungan anak di ruang digital. Kebijakan tersebut mengatur pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia tertentu pada berbagai platform digital sebagai langkah preventif dalam melindungi perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembatasan usia pengguna media sosial tersebut dalam perspektif pendidikan Islam dengan menggunakan kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya prinsip ḥifẓ al-‘aql (perlindungan akal) dan ḥifẓ al-akhlāq (perlindungan moral). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan melalui analisis terhadap regulasi pemerintah, literatur pendidikan Islam, serta kajian akademik mengenai literasi digital dan perlindungan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pembatasan usia pengguna media sosial memiliki relevansi dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam yang menekankan pentingnya menjaga perkembangan intelektual dan moral generasi muda. Oleh karena itu, integrasi antara regulasi digital, pendidikan keluarga, serta pendidikan berbasis nilai-nilai Islam menjadi strategi penting dalam menciptakan lingkungan digital yang aman, sehat, dan edukatif bagi anak.
The Verbal Abuse in Virtual Spaces Among University Students: Reconstruction of Communication Ethics from the Perspective of Islamic Education Novia Nasyomia; Rizky Dwi Pradana
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 1 Januari 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i1.795

Abstract

This article explores the issue of verbal abuse within students’ virtual interactions from the standpoint of Islamic educational ethics. The increasing use of virtual communication platforms, particularly WhatsApp, has reshaped the way university students engage in academic and social communication. Despite offering efficiency and accessibility, virtual interaction also creates ethical vulnerabilities, including the emergence of ridicule, degrading remarks, offensive expressions, and other forms of verbal aggression in online conversations. This study adopts a qualitative library research design employing normative and thematic interpretative approaches. The data were obtained from Qur’anic verses, contemporary tafsir literature, academic books, and previous studies concerning virtual communication, cyber interaction, and Islamic education. The analysis was conducted using content analysis by synthesizing perspectives from communication theory, the online disinhibition effect, and Islamic ethical principles. The study reveals that verbal aggression in students’ virtual spaces is influenced by the weakening of social restraint in online environments, the text-oriented nature of digital communication, and insufficient ethical awareness in media engagement. From the perspective of Islamic education, QS. Al-Ḥujurāt verse 11 emphasizes the prohibition of mockery, humiliation, and derogatory labeling because such behavior undermines human dignity and social harmony. Contemporary interpretations proposed by Wahbah al-Zuhaili, Muhammad al-Tahir Ibn Ashur, and Sayyid Qutb demonstrate that Islamic communication ethics remain highly relevant in responding to verbal misconduct within contemporary virtual environments. This study highlights the importance of integrating digital literacy with moral and character education to encourage a more respectful, ethical, and civilized academic communication culture.