Perkembangan Kota Medan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 tidak dapat dilepaskan dari dinamika perdagangan dan perkebunan yang mendorong hadirnya berbagai kelompok etnis, termasuk komunitas Tionghoa. Kehadiran kelompok ini tidak hanya berperan dalam perkembangan ekonomi, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pembentukan lanskap budaya dan arsitektur kota. Salah satu peninggalan penting yang merepresentasikan keberadaan komunitas tersebut adalah Tjong A Fie Mansion, rumah tinggal seorang tokoh Tionghoa berpengaruh di Medan pada masa kolonial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik arsitektur rumah elite Tionghoa pada masa kolonial di Medan melalui kajian terhadap Tjong A Fie Mansion serta menganalisis bentuk akulturasi budaya yang tercermin dalam elemen arsitektur bangunan tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis dalam kajian sejarah arsitektur. Data diperoleh melalui observasi langsung terhadap bangunan, studi literatur, serta dokumentasi visual. Analisis dilakukan melalui identifikasi morfologi arsitektur, penelusuran konteks historis, dan interpretasi terhadap elemen arsitektural bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tjong A Fie Mansion memiliki karakteristik arsitektur yang memperlihatkan perpaduan berbagai pengaruh budaya, terutama arsitektur Tionghoa dan kolonial Belanda. Unsur arsitektur Tionghoa terlihat pada penggunaan courtyard, simbol-simbol budaya seperti lampion dan kaligrafi, serta konsep rumah terbuka. Sementara itu, pengaruh arsitektur kolonial tampak pada komposisi fasad yang simetris, penggunaan kolom, serta warna bangunan yang cenderung netral. Temuan ini menunjukkan bahwa Tjong A Fie Mansion merupakan representasi penting dari proses akulturasi budaya dalam arsitektur yang berkembang di Kota Medan pada masa kolonial.