Penelitian ini mengkaji peran strategis arsitektur landmark keagamaan dalam membentuk identitas kota, dengan fokus pada dua masjid agung di Provinsi Jawa Barat: Masjid Agung Al-Barkah di Kota Bekasi dan Masjid Agung di Kota Tasikmalaya. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus ganda. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan terstruktur untuk mendokumentasikan tata letak, gaya arsitektur, dan elemen simbolik; wawancara semi-terstruktur dengan 14 informan kunci, termasuk tokoh agama, arsitek, pengurus masjid, dan perwakilan masyarakat; serta analisis dokumen berupa arsip perencanaan, foto historis, dan regulasi terkait penataan kota. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan tematik yang mengintegrasikan kajian visual, historis, dan sosial-budaya guna mengidentifikasi pola kesamaan dan perbedaan antar kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua masjid berfungsi melampaui peran ibadah, menjadi jangkar visual dan kultural yang mengartikulasikan identitas kota. Masjid Agung Al-Barkah, dengan kombinasi arsitektur Islam modern dan pengaruh Timur Tengah-Jawa, mencerminkan dinamika urban Kota Bekasi yang kosmopolitan. Sementara itu, Masjid Agung Tasikmalaya, dengan dominasi elemen arsitektur Sunda, menegaskan pelestarian nilai lokal di tengah transformasi kota. Perbedaan arsitektural ini membentuk narasi simbolik yang unik, memperkuat memori kolektif dan keterikatan emosional masyarakat terhadap kotanya. Temuan ini mengindikasikan bahwa masjid agung memiliki potensi sebagai representasi identitas kolektif sekaligus media kontinuitas historis, berperan sebagai elemen penghubung antara dimensi sakral, sipil, dan kultural dalam perencanaan kota yang berkelanjutan.