Penelitian ini mengeksplorasi Piodalan Ageng (ritual besar pura desa) di Bali sebagai living curriculum berbasis konsep Desa Drsta (tatanan kosmologis), menggunakan pendekatan kualitatif reflektif. Sumber data penelitian diantaranya sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan studi pustaka. Fokusnya pada: (1) Proses etnopedagogik ritual sebagai aktualisasi nilai melalui dinamika simbolik, naratif, dan performatif lintas generasi; (2) Mekanisme internalisasi nilai karakter (religiusitas, ayahan banjar (gotong royong), etika sosial berbasis dharma) dari persiapan hingga sineb (37 hari), khususnya transformasi kesadaran generasi muda. Metode melibatkan observasi partisipan mendalam, wawancara dengan tokoh adat dan masyarakat multigenerasi, analisis dokumen adat, serta triangulasi. Temuan kunci: Piodalan Ageng mengintegrasikan empat dimensi etnopedagogik holistik: Spiritual-religius (mantra, persembahan, penyucian diri); Seni-budaya sakral (kreasi estetis bernuansa religius); Sosial-kolektif (penguatan kohesi sosial lewat ayahan banjar); Etika-susila (kedisiplinan, kejujuran, keselarasan norma adat-religius). Kesimpulan utama: Ritual ini berfungsi sebagai wahana transformatif pembentuk karakter, di mana keterlibatan prosedural (partisipasi aktif) dan refleksi konseptual menjadi kunci efektivitas transmisi nilai. Penelitian mengidentifikasi faktor pendukung/hambatan pembelajaran kultural dan mendukung revitalisasi pendidikan berbasis kearifan lokal Bali dengan memanfaatkan mekanisme kultural yang teruji.