Latar Belakang: Penggunaan obat herbal pada balita masih banyak dilakukan sebagai bentuk pengobatan komplementer di masyarakat. Meskipun dianggap alami dan aman, penggunaan herbal tanpa pemahaman yang tepat mengenai dosis, indikasi, serta aspek keamanan berpotensi menimbulkan efek toksik, mengingat sistem metabolisme balita belum berkembang secara optimal. Oleh karena itu, calon tenaga kefarmasian perlu memiliki pengetahuan keamanan herbal yang memadai melalui pembelajaran farmakognosi. Tujuan: Menganalisis hubungan antara minat belajar farmakognosi dengan pengetahuan keamanan penggunaan obat herbal pada balita. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 62 siswi kelas XI SMK Negeri 2 Magetan yang diambil menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner minat belajar dan tes pengetahuan keamanan penggunaan obat herbal. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank (rs). Hasil: Seluruh responden berjenis kelamin perempuan (100%) dengan mayoritas berusia 16 tahun (69,40%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan secara statistik antara minat belajar farmakognosi dengan pengetahuan keamanan penggunaan obat herbal pada balita (rs = 0,982; 95% CI: 0,969–0,989; p = 0,001). Simpulan: Minat belajar merupakan faktor penting dalam membentuk pemahaman siswa mengenai keamanan penggunaan obat herbal pada balita. Penguatan motivasi belajar dalam pendidikan vokasi farmasi berperan strategis dalam mendukung keselamatan pasien pediatrik melalui edukasi penggunaan herbal yang rasional dan aman.