Trigita Azahra Kinanthi
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Tingkat Pendidikan Dan Status Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Swamedikasi Pada Anak Di Jakarta Trigita Azahra Kinanthi
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1114

Abstract

Latar Belakang: Swamedikasi atau pengobatan mandiri pada anak sering menjadi pilihan pertama orang tua untuk menangani keluhan ringan. Tingkat pendidikan formal dan status sosial ekonomi sering kali dianggap sebagai faktor determinan utama yang memengaruhi pemahaman dan tindakan medis mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi terhadap pengetahuan dan perilaku swamedikasi pada orang tua di Jakarta. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional) terhadap 146 orang tua yang memiliki riwayat melakukan swamedikasi pada anak. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang telah divalidasi. Analisis statistik hubungan antar variabel dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi $p < 0,05$. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan swamedikasi dalam kategori kurang (58,2%) dan perilaku dalam kategori cukup (45,9%). Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan ($p = 0,288$) maupun perilaku ($p = 0,736$). Demikian pula dengan status sosial ekonomi yang tidak berhubungan signifikan dengan pengetahuan ($p = 0,217$) dan perilaku ($p = 0,104$). Pembahasan: Temuan ini mengindikasikan bahwa pendidikan formal yang tinggi dan kondisi ekonomi yang mapan tidak menjamin praktik swamedikasi yang lebih baik pada orang tua. Rendahnya pengetahuan yang dibarengi dengan perilaku yang "cukup" menunjukkan adanya kesenjangan (knowledge-practice gap). Faktor lain seperti pengalaman pribadi, pengaruh budaya/kebiasaan, dan aksesibilitas terhadap informasi kesehatan non-formal diduga memiliki peran yang lebih dominan. Simpulan: Tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi bukan merupakan faktor penentu signifikan terhadap pengetahuan dan perilaku swamedikasi pada anak di Jakarta. Diperlukan upaya edukasi kesehatan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan untuk mendorong praktik swamedikasi yang aman, rasional, dan bertanggung jawab bagi seluruh lapisan masyarakat.