Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Cultural Design Gumelar, Michael Sega
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 2 No 2 (2017): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1662.976 KB)

Abstract

Cultural is a construction runs on an ongoing basis from a bad to a better direction from and for humans in an environment to achieve prosperity, happiness and peace of all people in an area. Clash of cultural is a necessity that is inevitable in the era of information and globalization. There is a strong cultural dominance in globalization to imply a false consciousness to the younger generation and its hegemonic. Even some people being hegemony information slaves (hegeformaslaves) by cultural and sadly they do not even realised it. There is a cultural resistance, adaptation, and acculturation occur. When thinking about the need for a strong cultural identity, the need for redigging, reshaping, and finding again the ancestral identity to be used as construction of new cultural identities as a unifying with the goal of unity, prosperity, happiness and peace in a community.   This globalization era required a local merger with global thought that does not cancel each other out, but belong together and complete it. Thinking "local go global" resulting in a mix of local and global (Locglo). Instead of thinking global-local (Glocal), global tends to intimidate and repress local in the sense that the main priority is global and not local. Locglo is thought that promotes local equivalent to the global. Dayak in the need of reconstructing a better cultural identity requiring comparative studies with people on the island of Bali that measures future construction design thinking this culture can be projected and used as a cultural construction for the Dayak's new better culture based on humanity and speciesity in achieving the noble values of the ancestors of togetherness, welfare, and peace for Dayak locally and globally.
Teori: G-Engine dengan Super Magnet dan Magnet Shielding System Gumelar, Michael Sega
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 2 No 2 (2017): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.734 KB)

Abstract

G-Engine dari kata generator dan engine. Menggabungkan kata generator yang tujuannya menghasilkan listrik dan engine yang berarti mesin atau motor yang berotasi. Teori mesin yang menggunakan material super magnet dan material magnet shielding sytem. Teori mesin ini diharapkan terwujud pada saat penulis mendapatkan dana penelitian selanjutnya. Harapan adanya G-Engine ini akan membuat perubahan pada keperluan energi yang terjangkau dan dapat digunakan diberbagai tempat karena dapat dibuat portable (mudah dibawa) dengan skala ukuran tertentu sesuai keperluan. Dalam teori G-Engine ini penulis tidak akan membahas hitungan secara matematika dan fisika, tetapi penguatan pada ide dasar dan logikanya sebagai satu kesatuan sistem yang diperlukan dalam memahami mesin tersebut.  
Journal Indexing: Pemarginalan Terstruktur dari Pemerintah kepada Dosen di Indonesia Gumelar, Michael Sega
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 2 No 2 (2017): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (754.857 KB)

Abstract

Journal indexing atau pengindeksan jurnal telah menjadi kendala bagi para dosen untuk menjadi aktif menulis dan secara sadar atau tidak sadar berbalik mengurangi maraknya manuscript atau publikasi laporan penelitian di Indonesia yang seharusnya banyak bermunculan. Pengindeksan jurnal saat laporan penelitian ini dibuat telah menjadi bumerang dan sedihnya lagi laporan penelitian bagi calon doktor dan profesor wajib masuk ke dalam jurnal yang diindeks oleh beberapa penerbit besar di Bumi yang awal tujuan untuk mengindeks terbitan jurnal penerbit itu sendiri. Kini para penerbit besar di Bumi tersebut telah melakukan komodifikasi negatif dengan mengomersialkan journal indexing mereka dengan mengkonstruksi bahwa jurnal yang baik adalah jurnal yang berada di dalam indeks sistem mereka. Konstruksi tersebut menguat karena para penerbit besar tersebut memiliki media siar berupa media cetak kertas sebelumnya dan kini media digital dengan sistem journal indexing secara website. Para penerbit besar di Bumi tersebut menyebarkan dominasi informasi mereka melintasi negara lainnya melalui dominasi media cetak dan media digital yang mengakibatkan negara-negara yang kurang maju dan terbelakang cara berpikirnya menjadi korban ideologi dari komodifikasi journal indexing tersebut, ini yang disebut dengan nama hegemoni di masa ini. Korban ini terjadi karena orang-orang di negara terbelakang merasa inferior, tidak percaya diri, dan merasa tertinggal, oleh karenanya timbul keinginan yaitu bila dapat bergabung dalam jurnal indexing tersebut maka negara-negara berkembang ini “merasa” menjadi setara dengan negara yang sudah maju. Orang-orang di negara terbelakang ini menjadi budak informasi dan hegemoni dari dominasi informasi negara-negara maju, penulis menyebut hal ini dengan istilah hegemony information slaves dan penulis singkat menjadi hegeformaslave untuk kata sifatnya, untuk kata kerjanya menjadi hegeformaslaving, dan pelakunya disebut dengan nama hegeformaslaver untuk satu orang, menjadi hegeformaslavers untuk pelaku lebih dari satu orang, sedangkan korbannya disebut dengan nama hegeformaslave untuk penyebutan satu orang kemudian hegeformaslaves untuk penyebutan lebih dari satu orang, sistemnya disebut dengan nama hegeformaslavery.
Cultural Design: Usulan Pengembalian Pajak Penghasilan Perseorangan dari Pemerintah kepada Wajib Pajak sebagai Hak Pensiun, Asuransi, Pendidikan, dan Saat Tidak Mendapatkan Pekerjaan di Indonesia Gumelar, Michael Sega
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.294 KB)

Abstract

Pajak merupakan kewajiban bagi setiap warga negara dan atau lembaga yang memiliki kategori masuk ke dalam wajib pembayar pajak. Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan pemerintah, dan setiap orang adalah subjek bagi wajib pajak. Wajib pajak mulai muncul ketika seseorang subjek pajak memiliki kekayaan dan penghasilan dalam ragam dan bentuk apa pun dalam kategori terkena pajak. Selama ini pemerintah gencar menyebarkan slogan “orang bijak bayar pajak” di mana pajak merupakan kewajiban setiap wajib pajak, dan membayar pajak merupakan langkah yang bijak agar tidak terkena sangsi dari pemerintah.  Pemerintah bahkan mengingatkan setiap warga negara dan lembaga wajib pajak untuk selalu membayar pajak tepat waktu, beserta sangsi secara administratif dan atau pidana sesuai dengan kasusnya. Membayar pajak, apa untungnya bagi si wajib pajak? Pernahkah terlintas pemikiran tersebut? Kemana penghasilan pajak dari rakyat selama ini digunakan oleh pemerintah? Tentu saja jawaban dari pemerintah sangat klasik. Pendapatan dari pajak digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarana umum bagi warga, dan juga kepentingan pemerintah lainnya untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini dikuati oleh  Undang-undang  nomor 28 tahun 2007  pasal 1 ayat 1 dari pemerintah yang menyatakan “Pajak adalah kontribusi wajib rakyat kepada negara yang terutang, baik sebagai orang pribadi atau badan usaha yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Hal tersebut dapat berlaku pada pajak kendaraan, pajak tanah, pajak rumah, pajak kekayaan lainnya yang nonpajak penghasilan. Tetapi menjadi pertanyaan saat pemerintah mengambil pajak penghasilan perseorangan, di mana mengambil pajak penghasilan perseorangan kepada seorang wajib pajak, akan diikuti oleh hak yang diperoleh si wajib pajak tersebut.
Cultural Design: Bencana Alat Transportasi Massal Implikasi Buruk bagi Indonesia sebagai Negara Nonprodusen Teknologi Gumelar, Michael Sega
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.914 KB)

Abstract

Desain budaya (cultural design) bidang teknologi di Indonesia dibentuk karena impak globalisasi dan kepentingan negara lain yang membuat penduduk dan pemerintahan Indonesia menjadi sasaran pasar dari negeri produsen teknologi. Pemerintahan di Indonesia juga dikendalikan secara ideologi oleh negara lain sebagai negara target pasar. Hal ini membuat Indonesia cenderung menjadi negara “makelar” dengan hegemoni informasi dari negara lainnya sehingga Indonesia menjadi budak (hegeformaslaves) di bidang teknologi. Pemerintah, pebisnis, dan warga negara Indonesia yang telah menjadi hegeformaslaves ini  cenderung akan kehilangan nilai-nilai budaya aslinya dan mengelu-elukan produk serta budaya dari negara-negara pengendalinya (hegeformaslavers), negara-negara cengkeramannya kuat di Indonesia dalam bidang teknologi yang juga mengendalikan ekonomi di Indonesia ini adalah Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Korea, China, India, dan beberapa negara-negara produsen lainnya. Lalu apa hubungannya dengan ragam bencana alat transportasi massal yang terjadi di Indonesia? Ada, karena Indonesia hanya sebagai negara target pasar dan didesain secara budaya agar dibuat tidak mengerti teknologi pembuatannya. Membuat Indonesia memiliki ketergantungan sangat tinggi kepada negara produsen teknologi. Sedangkan Indonesia saat ingin membuat sendiri teknologi tersebut tidak bisa, kemudian ingin menambah jumlah armada alat transportasi massal seperti bus, kapal laut, kereta, dan pesawat terbang menjadi semakin mahal, sedangkan keperluan ekonomi dan jumlah penduduk semakin meningkat.  Sehingga pada suatu titik keputusan secara logis cenderung membeli dan mengganti suku cadangnya saja. Seiring waktu  keserakahan bisnis karena kebutuhan ekonomi yang semakin memingkat juga muncul, hal ini membuat beban alat transportasi massal yang digunakan dipaksakan melebihi kemampuan alat transportasi massal tersebut, di sisi lainnya, ragam suku cadang untuk pengganti seadanya dengan kualitas buruk karena ketidakmampuan membeli suku cadang asli apalagi mesin sudah mulai tua, membuat implikasi potensi kecelakaan meningkat dari waktu ke waktu, hal ini telah terjadi. Lalu bagaimana tanggung jawab negara produsen? Ini hanya bisnis, tentu saja para negara hegeformaslavers bagi Indonesia tidak akan menyerahkan teknologinya kepada hegeformaslaves-nya (budak) sebab hal ini akan membuat Indonesia berubah menjadi negara produsen teknologi.