Penyakit ginjal kronis (CKD) terus menunjukkan peningkatan prevalensi di Indonesia, sementara konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) di kalangan remaja, termasuk santri pesantren, menjadi faktor risiko yang mengkhawatirkan. Rendahnya kesadaran terhadap kandungan gula, natrium, dan aditif dalam MBDK memperparah risiko kerusakan ginjal pada usia dini. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan santri mengenai bahaya konsumsi MBDK serta memberdayakan kader santri sebagai agen promosi kesehatan dalam pencegahan penyakit ginjal berbasis komunitas. Kegiatan dilaksanakan pada 10 Mei 2025 di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya, melalui tahapan survei lapangan, Focus Group Discussion (FGD), penyuluhan interaktif, serta pemeriksaan kesehatan. Efektivitas edukasi diukur dengan pre-test dan post-test, serta pelaksanaan pemeriksaan medis meliputi antropometri, tekanan darah, kadar gula darah, dan konsultasi kesehatan. Sebanyak 38 santri mengikuti penyuluhan, dengan hasil post-test menunjukkan peningkatan skor rata-rata sebesar 11,3 poin dibandingkan pre-test. Pemeriksaan kesehatan diikuti oleh 60 peserta (46 santri, 14 pengasuh) yang mendapatkan manfaat langsung melalui deteksi dini risiko hipertensi, diabetes, serta konsultasi medis. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi interaktif berbasis pesantren efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja, terutama terkait bahaya MBDK dan pencegahan CKD. Selain itu, pemberdayaan kader santri memperkuat keberlanjutan program melalui transfer pengetahuan di lingkungan pesantren. Kesimpulannya, model intervensi yang memadukan edukasi interaktif, pemeriksaan kesehatan, dan pemberdayaan kader santri terbukti meningkatkan kesadaran serta mendorong perilaku hidup sehat di pesantren. Program ini direkomendasikan untuk direplikasi di pesantren lain dan diintegrasikan dengan Poskestren guna mendukung pencegahan penyakit ginjal secara berkelanjutan.