Transformasi pendidikan abad ke-21 menuntut integrasi strategi pembelajaran inovatif yang mengoptimalkan kemandirian belajar siswa. Penelitian ini menganalisis kecenderungan awal Self-Regulated Learning (SRL) siswa dalam konteks Problem-Based Learning (PBL) dengan potensi integrasi Artificial Intelligence (AI). Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei cross-sectional, penelitian melibatkan 30 responden di lingkungan pesantren pada Agustus 2025. Instrumen penelitian berupa angket SRL skala Likert 1-4 yang mencakup enam indikator utama: forethought, performance, motivational belief, self-control & persistence, help-seeking & collaboration, dan self-reflection. Temuan penelitian menunjukkan hierarki capaian SRL dengan dimensi Forethought mencapai skor tertinggi (78,13%), diikuti Self-Reflection (73,44%), Performance (73,63%), Motivational Belief (71,09%), Help-Seeking & Collaboration (69,92%), dan Self-control & Persistence (69,53%). Variasi capaian individual berkisar dari hampir 90% hingga di bawah 70%, mengindikasikan heterogenitas kemampuan SRL antarparticipan. Dominannya dimensi Forethought menegaskan pentingnya perencanaan strategis sebagai fondasi regulasi diri yang efektif. Sebaliknya, rendahnya skor Self-control & Persistence mengidentifikasi area yang memerlukan intervensi khusus. Penelitian ini memberikan baseline penting untuk pengembangan strategi pembelajaran yang mengintegrasikan AI dalam PBL untuk memperkuat SRL. Implikasi praktis menunjukkan perlunya penguatan dimensi SRL melalui teknologi adaptif berbasis AI dalam konteks pendidikan Sains/IPA di Indonesia.