Muhammad Muhlis
UAD Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN KETEPATAN PERESEPAN ANTI BIOTIKA BERDASARKAN METODE GYSSENS TERHADAP PERBAIKAN KLINIS PADA PNEUMONIA KOMUNITAS DI RS SWASTA KOTA YOGYAKARTA Muhammad Muhlis; Dyah A. P; Rhiska Novalinda
Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains Vol 6 No 1 (2022): Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas YPIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan antibiotika yang tidak rasional pada pasien community acquiredpneumonia (CAP) dapat menyebabkan terjadinya DRP. Ketepatan peresepan antibiotika dapat meningkatkan keberhasilan terapi serta mencegah munculnya DRP antibiotika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan ketepatan peresepan antibiotika terhadap perbaikan klinis pasien pneumonia komunitas yang menjalani rawat inap di RS Swasta Kota Yogyakarta.  Penelitian ini dirancang secara observasional analitik dengan data retrospektif, data berupa rekam medis pasien dewasa dengan diagnosa pneumonia komunitas yang menjalani rawat inap pada periode Januari-Juli 2020, evaluasi ketepatan peresepan antibiotika menggunakan metode Gyssens. Perbaikan klinis yang diamati berupa jumlah leukosit, Respiratory Rate (RR).suhu tubuh, Length of Stay (LOS). Hubungan ketepatan peresepan antibiotika terhadap perbaikan klinis di analisis dengan chi-square.  Hasil penelitian didapat 46 pasien dengan 57 peresepan antibiotika, peresepan antibiotika yang tepat sebanyak 13,5% dan tidak tepat sebanyak 86,5%. Hasil uji nilai signifikansi ketepatan peresepan antibiotika terhadap parameter perbaikan klinis jumlah leukosit (p = 0,200 > 0,05); respiratory rate (p = 0,592 > 0,05); suhu tubuh (p = 0,307 > 0,05); LOS (p = 0,200 > 0,05).  Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara ketepatan peresepan antibiotika terhadap perbaikan jumlah leukosit, suhu tubuh, respiratory rate (RR), dan length of stay (LOS) 
Evaluasi Penggunaan Antibiotika Menggunakan Metode PCNE  V9.1 Pada Pasien Pneumonia Tahun 2019-2020 di Rumah Sakit X Indramayu, Jawa Barat Muhammad Muhlis; Agust Noegroho Kusuma
Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains Vol 8 No 2 (2025): Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas YPIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51997/xx41pm57

Abstract

Pneumonia merupakan penyakit infeksi pada parenkim paru yang disebabkan mikro-organisme. Tatalaksana terapi pneumonia harus menggunakan antibiotika yang tepat, agar diperoleh pengobatan yang efektif, sehingga dapat mencegah resistensi antibiotika dan diperoleh efek terapi maksimal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotika pasien pneumonia tahun 2019-2020 di salah satu Rumah Sakit  Indramayu Jawa Barat menggunakan metode PCNE V9.1. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pengamatan secara retrospektif. Subyek penelitian adalah pasien pneumonia yang mendapatkan terapi antibiotika yang memenuhi kriteria inklusi (pasien pneumonia ICD J18.9 yang menjalani terapi antibiotika semua kategori umur dan pasien pneumonia di rawat inap). Data penelitian diambil  dari tahun 2019 sampai 2020. Analisis data secara univariat menggunakan tools PCNE V9.1. Dari 42 sampel sebagian besar pasien laki-laki (71,43%), usia 0-5 tahun (26,19%), banyak ditemukan mengalami anemia (19,23%), mayoritas mendapatkan pengobatan dirumah sakit selama ≤5 hari (92,86%). Persentase penggunaan antibiotika berdasarkan kategori PCNE V9.1 adalah tepat 68,29% dan tidak tepat 34,15%. Antibiotika yang paling banyak digunakan adalah ceftriakson (23,81%), sefotaksim (23,81%), dan kombinasi ceftriakson+azythromicin (7,14%). Perbaikan klinis pasien banyak ditemukan dalam keadaan membaik. Kesimpulan,  evaluasi ketepatan penggunaan antibiotika adalah tepat 68,29% dan tidak tepat 34,15%. Penggunaan antibiotika yang tidak tepat dikarenakan terdapat efek terapi yang tidak optimal sebanyak 16,67%, frekuensi dosis terlalu sering sebanyak 2,38%, dan durasi pengobatan terlalu singkat sebanyak 28,57%.