Silvy Kartikasari
Universitas Sali Al-Aitaam

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REBRANDING KERIPIK GADUNG DESA TOMO “KRIGATO” SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENJUALAN PRODUK ONE VILLAGE ONE PRODUCT (OVOP) DARI KECAMATAN TOMO SUMEDANG Danu Dwi Sanjoyo; Silvy Kartikasari; Septiana Dwika Pangestu; Kandi Amira Rizki Mufidah; Aulia Fadhila Ramadhani; Alvino Tunjung Bagaskara; Muhammad Raihan Aufa Gunardi
The Proceeding of Community Service and Engagement (COSECANT) Seminar Vol. 4 No. 1 (2024): The Proceeding of Community Service and Engagement (COSECANT) Seminar
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/cosecant.v6i1.7892

Abstract

Desa Tomo merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang. Desa Tomo memiliki potensi sumber daya alam yang beragam, di antaranya adalah tanaman gadung. Tanaman ini secara natural mengandung racun yang mengakibatkan pusing dan muntah, tetapi dengan pengolahan yang tepat, tanaman ini dapat diolah menjadi keripik gadung yang dapat dikonsumsi sehari-hari. Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Desa Tomo memiliki rumah produksi keripik gadung yang pemasarannya masih dalam ruang lingkup daerah, sehingga pendapatan dari penjualan keripik ini masih kecil. Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) kali ini bertujuan untuk melakukan rebranding produk keripik gadung yang dihasilkan oleh KUBE Desa Tomo, yang dinamakan “KRIGATO”, yang merupakan singkatan dari Keripik Gadung Desa Tomo. Tim membuat desain kemasan yang merepresentasikan produk, sekaligus identitas Desa Tomo. Selain itu, tim PkM kami juga berusaha agar produk Krigato mendapatkan sertifikasi halal dan melakukan pemasaran melalui e-commerce, untuk menunjang proses pemasaran dan penjualan. Pada artikel ini, kami laporkan dampak rebranding terhadap jumlah penjualan dan respon masyarakat terhadap program PkM kali ini. Kami lengkapi artikel ini dengan rencana keberlanjutan program ini.
PENGABDIAN PADA MASYARAKAT UNTUK PEMBERDAYAAN PEREMPUAN KELURAHAN SAMBONGPARI MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN DAN PEMASARAN RENGGINANG Dedi Karmana; Kartijo; Silvy Kartikasari; Nenden Hendayani; Ahmad Husen; Fauziyyah Sahar; Nelli Novyarni; Cikal Rosyayuda; Muhammad Rofi' Alqulyubi; Soni Tri Senjaya; Muhamad Abdul Azis; Rani Nuraeni
JOURNAL OF COMMUNITY DEDICATION Vol. 4 No. 4 (2025): AGUSTUS
Publisher : Adiba Aisha Amira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rengginang Crackers are a food made from glutinous rice where the glutinous rice grains are combined and become a crunchy cracker-like food. In community service activities, training in making rengginang with plants as food coloring will provide knowledge and skills to women in the village in processing local ingredients into products that have added value and high economic value. The stages of this training start from the selection of materials, processing techniques, the coloring process, and good packaging. Another important aspect, namely the marketing aspect, is provided with the aim of village women being able to sell rengginang products with more effective marketing strategies. The benefits of this community service activity are aimed at female MSMEs and youth in the environment of babakan cikurubuk, Tasikmalaya Regency. Business actors in babakan cikurubuk, Tasikmalaya Regency, especially women, are currently utilizing agricultural products as business products. Business actors in babakan cikurubuk, Tasikmalaya City, especially women, can also make rengginang from sweet potatoes, glutinous rice, and rice as well as food coloring from plants. This activity benefits the village community, and the community service also serves as a catalyst for students to improve their organizational skills and participate in a Community Service Program (PKM) under the guidance of a supervising lecturer. Evaluation results for MSME participants indicate that 95 percent have grasped the material presented in the training. This demonstrates that participants understand how to empower rengginang production.