Tuberkulosis (TBC) paru masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, dengan angka kematian yang tinggi setiap tahun. Meskipun program pengobatan TBC telah tersedia di fasilitas kesehatan primer, fenomena pasien yang tidak menyelesaikan terapi (drop out) tetap menjadi tantangan besar dalam mencapai keberhasilan pengobatan. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan resistensi obat dan memperpanjang transmisi penyakit di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kejadian drop out pengobatan TBC paru di wilayah kerja Puskesmas Kedukul, Kecamatan Mukok. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 13 responden yang pernah menjalani pengobatan TBC paru. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Variabel yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jarak rumah, dukungan keluarga, efek samping obat, status merokok, dan peran pengawas minum obat (PMO). Terdapat hubungan signifikan antara variabel usia (p = 0,005), jenis kelamin (p = 0,007), jarak rumah (p = 0,032), dukungan keluarga (p = 0,032), efek samping obat (p = 0,021), dan status merokok (p = 0,032) terhadap kejadian drop out. Faktor usia lanjut, jenis kelamin, lokasi tempat tinggal jauh dari puskesmas, kurangnya dukungan keluarga, perokok aktif, serta efek samping ringan yang tidak ditangani dengan baik, berkontribusi terhadap meningkatnya risiko drop out. Intervensi berbasis komunitas dan pendekatan edukatif perlu diperkuat untuk menurunkan angka drop out.