Pendahuluan: Parkinsonisme sekunder dapat disebabkan oleh lesi struktural pada sistem saraf pusat, seperti infark lakunar atau space occupting lesion (SOL), yang mengganggu jaringan otak terkait fungsi motorik. Kasus ini melaporkan tata laksana fisioterapi pada pasien dengan parkinsonisme sekunder akibat infark lakunar di kapsula interna dan korona radiata kiri. Metode: Seorang wanita berusia 70 tahun dengan riwayat infark, operasi astrositoma, dan diagnosis parkinson sejak 2014 menjalani pemeriksaan fisioterapi meliputi Manual Muscle Testing (MMT), Range of Motion (ROM,) Numeric Pain Rating Scale (NPRS), Ashworth Scale, dan Parkinson’s Disease Questionnaire (PDQ-39). Intervensi meliputi infrared, TENS, Active ROM Exercise, Bridging Exercise, Mobilization Training, dan Postural Correction yang dilakukan secara berkala di rumah dan satu kali di rumah sakit. Evaluasi dilakukan sebelum dan setelah intervensi. Hasil: Setelah tindakan fisioterapi, tidak terdapat peningkatan signifikan pada kekuatan otot (MMT), lingkup gerak sendi (ROM), atau skor nyeri (NPRS). Tonus otot tetap pada skor Ashworth 2. Namun, skor kualitas hidup (PDQ-39) menunjukkan sedikit perbaikan dari 72,8% menjadi 70,45% mengindikasikan stabilitas fungsi meskipun dalam kategori gangguan kualitas hidup yang tinggi. Simpulan: Fisioterapi berperan dalam mempertahankan fungsi dan mencegah progresi disfungsi pada pasien parkinsonisme sekunder. Meskipun tidak terjadi peningkatan kekuatan otot atau ROM, intervensi memberikan kontribusi terhadap stabilitas kondisi fungsional dan kualitas hidup pasien