Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman perempuan dalam menghadapi budaya patriarki yang masih sering ditemukan, seperti di ruang lingkup ekonomi, sosial, agama, pendidikan, politik, hingga hukum. Pengakuan peran dan kapasitas perempuan dalam ranah sosial dan keagamaan masih menjadi tantangan besar bagi budaya patriarki. Penelitian ini menyoroti tentang bagaimana Rābi`ah al-Adawiyyah menanggapi masalah patriarki dan strategi apa yang bisa dilakukan perempuan untuk mendapatkan hak perannya di tengah sistem kebudayaan patriarki yang meningkat. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif atau studi Pustaka, dengan meneliti karya-karya terkait topik. Konsep al-Mahabbah (cinta Ilahi), kemandirian spiritual, dan gaya hidup Rābi`ah sebagai fokus analisis. Semua konsep ini menunjukkan penolakan terhadap subordinasi perempuan dalam struktur patriarkal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas Rābi`ah tidak hanya bersifat asketis-individual, tetapi juga mengandung aspek etis dan emansipatoris, yang menegaskan perempuan sebagai subjek yang merdeka, berdaya, dan bermartabat. Pemikiran Rābi`ah penting karena dapat mendekonstruksi narasi patriarki yang memarginalkan perempuan dan menawarkan paradigma alternatif tentang kesetaraan spiritual dan potensi pengembangan diri perempuan. Hasilnya mendukung sufisme sebagai sumber teologis dan filosofis untuk keadilan gender dalam Islam modern.