Pendahuluan: Pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah meningkatkan ketergantungan remaja pada media sosial sebagai sumber utama informasi kesehatan. Namun, tren ini tidak dibarengi dengan literasi digital kesehatan yang memadai, terutama di wilayah pedesaan, sehingga menimbulkan risiko seperti misinformasi kesehatan, diagnosis mandiri (self-diagnosis), dan perundungan siber (cyberbullying). Tujuan: Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital kesehatan siswa SMA Pelita Bangsa Lontar sebagai upaya strategis untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan berkarakter di Desa Alang-Alang, Kabupaten Serang. Metode: Pendekatan edukasi partisipatif diterapkan dengan melibatkan 40 siswa sebagai peserta. Intervensi dilakukan melalui diskusi interaktif, studi kasus, dan refleksi pengalaman digital. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pre-test dan post-test, dengan analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test untuk mengukur signifikansi peningkatan. Hasil: Temuan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada literasi digital kesehatan siswa. Proporsi siswa dalam kategori "Baik" dan "Sangat Baik" meningkat dari 55% saat pre-test menjadi 85% pada saat post-test. Analisis statistik menghasilkan nilai p-value sebesar 0,000 (p < 0,05), yang mengonfirmasi adanya peningkatan signifikan dalam kemampuan siswa mengidentifikasi hoaks kesehatan, melindungi data pribadi, dan menerapkan komunikasi digital yang etis. Kesimpulan: Edukasi literasi digital kesehatan secara partisipatif merupakan strategi yang efektif untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis di era digital, sehingga mendukung terwujudnya sekolah yang aman dan berkarakter.