Perubahan iklim di Indonesia semakin menimbulkan banyak risiko bencana, gangguan kesehatan, dan ketimpangan kerentanan sehingga memerlukan respons yang tidak hanya teknis, tetapi juga etis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana etika Islam, yakni: tauhid, konsep khalifah, mīzān, dan larangan fasād berfungsi sebagai legitimasi moral bagi gerakan sosial ekoteologis, yang diinstitusikan oleh Eco Bhinneka Muhammadiyah melalui program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice Through Ecofeminism), serta menjadi poin untuk menganalisis motif mobilisasi dan transformasi sosialnya. Metodologi: Penelitian menggunakan desain metode kualitatif pada studi kasus yang berbasis studi pustaka dan analisis dokumen, dengan pengumpulan data melalui dokumentasi gerakan dan naskah praktik komunitas serta analisis tematik pada konten institusi. Temuan Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa Eco Bhinneka Muhammadiyah menerjemahkan doktrin etika ke dalam arsitektur gerakan triadik. Yakin: eco literacy, eco sociopreneurship, campaign–advocacy dan membumikan wacana keadilan iklim melalui ecofeminisme, praktik pengelolaan sampah, dan budaya zero waste. Penelitian ini memberikan integrasi etika Islam dan desain program yang memungkinkan isu iklim diproduksi menjadi pemahaman komunal dan praktik berulang. Nilai Penelitian: Agenda penguatan pendidikan ekoteologis berbasis etika islam yang dilakukan oleh Ecobhineka Muhammadiyah benar membentuk mobilisasi dan transformasi sosial untuk memperluas dampak gerakan.