Hammado Tantu
Program Studi Biologi, Fakultas Sains, Universitas Cokroaminoto Palopo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Morfologi Ulat Sagu (Rynchophorus ferrugineus) Masna Masna; Hammado Tantu; Eka Pratiwi Tenriawaru
Cokroaminoto Journal of Biological Science Vol. 5 No. 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ulat sagu (larva Rhynchophorus ferrugineus) merupakan salah satu bahan makanan bagi masyarakat Luwu. Ulat sagu tersebut mengandung 9,34 – 13,80 % protein dan 18,09-18,25 % lemak. Pemanenan ulat sagu umumnya dilakukan pada saat ulat sagu berada pada fase instar 5 dan 6. Oleh karena itu, morfologi ulat sagu pada setiap fase instar perlu diketahui. Penelitian ini menggunakan ulat sagu berukuran 0,3 cm dan dibudidayakan pada medium limbah pohon dan sisa ampas sagu sebanyak 2 kg. Pengamatan dilaksanakan selama 53 hari dengan rentang waktu pengamatan 3 hari sekali. Morfologi yang diamati adalah morfologi kepala, warna badan, jumlah segmen, ukuran, dan berat masing-masing ulat sagu. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa instar 1 ditandai dengan segmen tubuh yang belum terlihat jelas, instar 2 memiliki 9 segmen tubuh, tubuh instar 3 sebanyak 10 segmen, dan instar 4-6 memiliki 11 segmen tubuh. Perbedaan instar 4-6 adalah pada instar 5 bagian ekornya melengkung dengan 3 garis cokelat sedangkan pada instar 6 terdapat antena.
Perbandingan Produksi Ulat Sagu pada Pucuk, Batang, dan Ampas Sagu di Kelurahan Suramadu Kecamatan Wara Barat Rezki Muliani; Hammado Tantu; Eka Pratiwi Tenriawaru
Cokroaminoto Journal of Biological Science Vol. 5 No. 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi ulat sagu pada pucuk, empulur batang, dan ampas sagu. Sepasang kumbang Rhynchophorus ferrugineus dimasukkan ke dalam wadah yang masing-masing telah berisi empulur pucuk, empulur batang, dan ampas sagu. Masing-masing perakuan diulangi sebanyak 4 kali pengulangan. Wadah tersebut ditutup dengan paranet dan dipelihara selama 43 hari. Kelembaban media dijaga dengan pemberian 100 mL air. Data produksi ulat sagu diperleh dengan menghitung jumlah ulat sagu yang dihasilkan pada hari ke 43. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji anova dan uji BNT untuk menentukan perlakuan terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empulur batang sagu merupakan media terbaik untuk produksi ulat sagu.