I Komang Restu Widi Artha
Jurusan Fisika, Institut Teknologi Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGEMBANGAN SENTRA AGROFORESTRY TOURISM BERBASIS BUAH PREMIUM DAN SISTEM PERTANIAN-PETERNAKAN MODERN BERTEKNOLOGI SMART FARMING I Wayan Sukra Warpala; Nyoman Santiyadnya; Ni Made Suci; I Dewa Gede Aristana; Ida Bagus Putu Mardana; Ni Kadek Cinta Eka Putri Jayanti; Gede Arya Amerta; Gede Darmika Yasa; I Komang Restu Widi Artha; Anak Agung Gde Suyoga Wiguna
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.38009

Abstract

Abstrak: Kabupaten Buleleng, Bali memiliki potensi pertanian dan kehutanan yang besar, namun belum dioptimalkan secara terpadu sebagai basis ekonomi pariwisata berkelanjutan. Desa Selat–Sukasada menghadapi keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, rendahnya adopsi teknologi pertanian, serta belum terintegrasinya sistem tani-ternak dan ekowisata hutan. Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) bertujuan meningkatkan hardskill dan softskill mitra dalam pengelolaan agroforestry tourism dan sistem tani-ternak multilayer berbasis smart farming. Program dilaksanakan menggunakan pendekatan Participatory Action Learning System (PALS) melalui sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, dan pendampingan kepada Kelompok Pengelola Hutan Desa Selat dan Kelompok Tani-Ternak Dharma Wiguna yang melibatkan 60 orang. Evaluasi dilakukan melalui observasi lapangan dan pre–post assessment menggunakan 15 butir soal. Hasil program menunjukkan peningkatan hardskill sebesar 38%, pemahaman pengelolaan wisata edukatif sebesar 42%, serta nilai ekonomi usaha tani-ternak dan HHBK sebesar 27%.Abstract: Buleleng Regency, Bali has significant agricultural and forestry potential, yet it has not been optimally integrated as a sustainable tourism-based economic resource. Selat–Sukasada Village faces limited human resource capacity, low adoption of agricultural technology, and weak integration between crop–livestock systems and forest ecotourism. This Fostered Village Empowerment Program aimed to enhance partners’ hard and soft skills in managing agroforestry tourism and multilayer crop–livestock systems based on smart farming. The program was implemented using the Participatory Action Learning System (PALS) through socialization, training, technology application, and mentoring involving 60 members of the Selat Village Forest Management Group and Dharma Wiguna Farmer–Livestock Group. Evaluation was conducted through field observation and pre–post assessments using 15 questionnaire items. The results showed a 38% increase in technical skills, a 42% improvement in understanding of educational tourism management, and a 27% increase in the economic value of crop–livestock and non-timber forest products.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM KERAJINAN BAMBU DAN TANI-TERNAK BERTEKNOLOGI IOT UNTUK MEWUJUDKAN AGROWISATA BALI AGA Ida Bagus Gede Surya Abadi; Rachmadhani Rachmadhani; Gede Widayana; Ida Bagus Gede Sarasvananda; Ida Bagus Putu Mardana; Gede Arya Amerta; Ni Kadek Cinta Eka Putri Jayanti; Gede Darmika Yasa; I Komang Restu Widi Artha; Anak Agung Gde Suyoga Wiguna
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.37998

Abstract

Abstrak: Sebuah desa Bali Aga di Bali Utara memiliki potensi warisan sosial-budaya dan sumber daya alam yang mendukung pengembangan agrowisata berbasis kearifan lokal. Namun, pemanfaatannya belum optimal akibat keterbatasan kompetensi masyarakat dalam manajemen usaha dan penerapan teknologi. Program pemberdayaan ini bertujuan meningkatkan kapasitas manajerial, produktivitas, dan efisiensi usaha melalui pengembangan sentra kerajinan bambu serta sistem tani-ternak multilayer berbasis IoT. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan Penthahelix dan metode Participatory Action Learning System (PALS) melalui tahapan pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi pretest–posttest berbasis indikator keberdayaan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan: 80% anggota menerapkan pencatatan usaha digital, produksi ternak meningkat hingga 75%, biaya pakan menurun 20%, dan omzet kerajinan bambu naik 40%. Program ini memperkuat integrasi ekonomi lokal berbasis agrowisata berkelanjutan.Abstract: A Bali Aga village in northern Bali possesses rich socio-cultural heritage and natural resources with strong potential for local-based agro-tourism development. However, these resources have not been optimally utilized due to limited community capacity in business management and technology adoption. This empowerment program aimed to enhance managerial capacity, productivity, and business efficiency through the development of a bamboo handicraft center and an IoT-based multilayer crop–livestock system. The program applied a Penthahelix approach combined with the Participatory Action Learning System (PALS), including training, technology implementation, mentoring, and pretest–posttest evaluation based on empowerment indicators. The results indicate significant improvements: 80% of members adopted digital business record-keeping, livestock production increased by up to 75%, feed costs decreased by 20%, and bamboo handicraft turnover rose by 40%. The program strengthened the integration of local economic activities within a sustainable agro-tourism framework.
PENGEMBANGAN SENTRA AGROTOURISM HORTIKULTURA POLIKULTUR BERTEKNOLOGI SMART FARMING DI KAWASAN GEOPARK Ida Bagus Putu Mardana; I Wayan Sukra Warpala; I Gede Adnyana; I Komang Restu Widi Artha; Anak Agung Gde Suyoga Wiguna; Gede Arya Amerta; Ni Kadek Cinta Eka Putri Jayanti; Putu Vina Febryanti; Gede Darmika Yasa
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.38074

Abstract

Abstrak: Pengembangan pertanian berkelanjutan dan agrowisata menjadi isu global seiring meningkatnya kebutuhan pangan, tekanan terhadap lingkungan, dan tuntutan diversifikasi ekonomi pedesaan. Namun, pada tingkat komunitas, integrasi antara hortikultura dan wisata masih sering berjalan parsial, disertai praktik budidaya konvensional dan pengelolaan limbah yang belum optimal. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan hardskill dan softskill mitra dalam pengelolaan hortikultura berwawasan agrowisata, pengolahan hasil, serta pengelolaan limbah berbasis pertanian konservasi. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, praktik langsung, penerapan ipteks, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi. Mitra kegiatan terdiri atas dua kelompok masyarakat dengan total 40 orang peserta. Evaluasi dilakukan melalui observasi, wawancara, dan angket untuk menilai perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mitra. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan keterampilan mitra sebesar 75% dalam budidaya hortikultura terpadu, pengolahan produk, dan pengelolaan lingkungan berbasis agrowisata. Kegiatan ini berkontribusi pada penguatan kapasitas masyarakat, peningkatan nilai tambah ekonomi, serta mendukung keberlanjutan pengembangan agrowisata berbasis pertanian konservasi.Abstract: The development of sustainable agriculture and agritourism has become a global issue amid rising food demand, environmental pressures, and the need for rural economic diversification. However, at the community level, the integration of horticulture and tourism often remains fragmented, accompanied by conventional farming practices and suboptimal waste management. This initiative aims to enhance partners’ hard and soft skills in agro-tourism-oriented horticulture management, crop processing, and conservation agriculture-based waste management. Implementation methods include outreach, training, hands-on practice, application of science and technology, mentoring, as well as monitoring and evaluation. The project partners consist of two community groups with a total of 40 participants. Evaluation was conducted through observation, interviews, and questionnaires to assess changes in the partners’ knowledge, skills, and attitudes. The evaluation results showed a 75% improvement in the partners’ skills in integrated horticultural cultivation, product processing, and agrotourism-based environmental management. This activity contributed to strengthening community capacity, increasing economic value-added, and supporting the sustainable development of agrotourism based on conservation agriculture.