Siti Puji Lestariningsih
Program Studi Kehutanan, Universitas Tanjungpura

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INOVASI PEMANFAATAN PAKIS SEBAGAI BAHAN BAKU BUBUK TABUR BERGIZI: STUDI POTENSI HASIL HUTAN BUKAN KAYU Siti Masitoh Kartikawati; Siva Devi Azahra; Destiana Destiana; Siti Puji Lestariningsih
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i3.38571

Abstract

Abstrak: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada salah satu desa di sekitar Kawasan Hutan Dengan tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Tanjungpura. Pakis merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu sebagai bahan pangan cukup melimpah namun pemanfaatan belum optimal. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Retok tentang pemanfaatan pakis sebagai bahan baku bubuk tabur bergizi dapat meningkatkan hard skill dan sofkill masyarakat terkait alternatif diversifikasi pengolahan pakis. [-1.1]Kegiatan diikuti oleh mitra ibu-ibu PKK dari 5 dusun sebanyak 20 peserta. Hasil evaluasi pretest-posttest menunjukkan peningkatan pengetahuan ekologis tentang pakis secara keseluruhan (100% mengenal dengan baik). Indikator keberhasilan meliputi peningkatan pengetahuan dan peningkatan diversifikasi pengolahan pakis menjadi bubuk tabur bergizi dari 30% ke 60%, yang berpotensi mendorong nilai ekonomi daun pakis melalui adopsi praksis.Abstract: Community service activities were carried out in one of the villages around the Special Purpose Forest Area (KHDTK) of Tanjungpura University. Ferns are one of the non-timber forest products that are quite abundant as food sources, but their utilization has not been optimal. The objective of the community service activity in Retok Village on the use of ferns as raw material for nutritious powder was to improve the hard skills and soft skills of the community related to alternative fern processing diversification. The activity was attended by 20 participants, consisting of women from 5 hamlets who are members of the PKK (Family Welfare Movement). The results of the pretest-posttest evaluation showed an increase in ecological knowledge about ferns as a whole (100% knew well). Success indicators include an increase in knowledge and diversification of fern processing into nutritious powder from 30% to 60%, which has the potential to boost the economic value of fern leaves through the adoption of practices.
MITIGASI KONFLIK DAN KONSERVASI ULAR (SERPENTES) SEBAGAI UPAYA PENGUATAN EKOSISTEM LOKAL Siva Devi Azahra; Siti Masitoh Kartikawati; Siti Puji Lestariningsih; Destiana Destiana
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.38281

Abstract

Abstrak: Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengurangi konflik antara manusia dan ular serta meningkatkan upaya konservasi ular (Serpentes) sebagai bagian dari penguatan ekosistem lokal. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh peran ekologis ular sebagai predator alami yang mengendalikan populasi hama pertanian, Namun, interaksi antara masyarakat yang berada di sekitar hutan dengan ular sering menyebabkan konflik yang berujung pada pembunuhan ular. Program ini mencakup edukasi mengenai peran ekologis ular, pelatihan penanganan ular yang aman, serta sistem mitigasi konflik dengan melibatkan masyarakat setempat. Kegiatan dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu penilaian kebutuhan, pelaksanaan pelatihan, monitoring dan evaluasi, serta dokumentasi. Pelatihan yang diikuti oleh 28 peserta, yang terdiri dari petani, perangkat desa, kader kesehatan, dan ibu rumah tangga menunjukkan peningkatan keterampilan dan pengetahuan tentang pencegahan dan pertolongan pertama pada gigitan ular melalui praktik dan perbandingan skor pre-posttest yang meningkat 41.5%. Hasil ini didukung oleh komitmen masyarakat untuk menerapkan penanganan konflik ular yang aman dan berbasis konservasi. Dengan pendekatan edukatif dan partisipatif, program ini berhasil mengurangi konflik manusia-ular, melindungi ekosistem lokal, serta meningkatkan kesadaran tentang konservasi di kalangan masyarakat.Abstract: This community service programme aims to reduce conflicts between humans and snakes and enhance snake (Serpentes) conservation efforts as part of strengthening the local ecosystem. This activity is motivated by the ecological role of snakes as natural predators that control agricultural pest populations. However, interactions between communities living near forests and snakes often lead to conflicts that result in snakes being killed. The programme includes education on the ecological role of snakes, training in safe snake handling, and a conflict mitigation system involving local communities. The activity was carried out in four stages, namely needs assessment, training implementation, monitoring and evaluation, and documentation. The training, which was attended by 28 participants consisting of farmers, village officials, health cadres, and homemakers, showed an increase in skills and knowledge about prevention and first aid for snake bites through practice and a 41.5% increase in pre-post test scores. These results are supported by the community's commitment to implementing safe, conservation-based snake conflict management. With an educational and participatory approach, this programme has reduced human-snake conflicts, protected local ecosystems, and raised community awareness of conservation.