Alim Muhadi Lubis
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dimensions of Islamic Theology: Analysis of Theological Verses Based on Asbab al-Nuzul Agusman Damanik; Andi Mahendra; Alim Muhadi Lubis; Anwar Hidayat Nasution
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 25 No 1 (2024): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v25i1.22147

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dimensi-dimensi teologi Islam berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an yang dianalisis dengan asbab al-nuzul. Teologi Islam tidak hanya mencakup pemahaman tentang Allah dan ajaran-ajaran-Nya, tetapi juga mencakup pemahaman tentang hubungan antara manusia dan penciptanya, serta implikasi kehidupan sehari-hari dari ajaran-ajaran tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskripsi. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pertama, konsep ketauhidan Allah yang termaktub dalam QS. al-‘Alaq ayat 1-5, menyoroti kebesaran dan keesaan Allah sebagai pencipta alam semesta dan sumber segala ilmu pengetahuan. Ayat-ayat tersebut menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dan pendidikan dalam agama Islam, serta memperkuat landasan teologis Islam tentang keesaan Allah dan pentingnya pembelajaran. Kedua, konsep tentang akhirat atau hari kiamat, dengan mempertimbangkan Asbab al-Nuzul, terutama dalam QS. al-Qiyamah ayat 6-9, menegaskan kebenaran dan kepastian akan kebangkitan dan hari kiamat, serta pentingnya persiapan dan pertanggung-jawaban di akhirat bagi setiap individu. Ayat-ayat tersebut menegaskan keimanan umat Islam terhadap hari kiamat sebagai bagian integral dari keyakinan mereka. Ketiga, konsep kebebasan dalam Islam, yang dianalisis melalui Asbab al-Nuzul QS. Yusuf ayat 99, menekankan pentingnya kebebasan untuk memilih maaf dan pengampunan, kebebasan dari sikap permusuhan dan balas dendam, serta kebebasan dalam mencapai keselamatan spiritual. Ayat tersebut memberikan contoh tentang pentingnya memilih jalan damai dan pengampunan dalam hubungan antarmanusia. Dengan demikian, teks tersebut memberikan pemahaman yang mendalam tentang konsep teologis Islam, termasuk konsep tentang Allah, akhirat, dan kebebasan, serta menunjukkan bagaimana konsep-konsep tersebut tercermin dalam ayat-ayat al-Qur’an dengan mempertimbangkan Asbab al-Nuzul.
Pengaruh Husain Basyaiban dalam Menyebarkan Nilai-nilai Al-Qur’an kepada Generasi Z di Era Digital Alim Muhadi Lubis
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 2 No. 2 (2025): July-December
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/7eyp7a55

Abstract

Penelitian ini menyoroti bagaimana metode dakwah digital yang diterapkan oleh Husain Basyaiban secara efektif menjawab kebutuhan spiritual Generasi Z yang hidup di tengah arus informasi digital yang cepat dan kerap kali dangkal. Dengan pendekatan komunikasi yang reflektif, santun, dan mampu menyentuh aspek emosional anak muda, Husain tidak hanya menyampaikan ajaran Islam secara informatif, tetapi juga transformatif. Konten-konten dakwahnya yang ringan namun bermakna, disampaikan melalui platform populer seperti TikTok, menunjukkan adanya adaptasi strategi dakwah terhadap budaya digital tanpa mengabaikan nilai-nilai Qur’ani. Nilai-nilai seperti keikhlasan, kesabaran, dan akhlak sosial disampaikan dengan pendekatan yang relatable, sehingga memudahkan audiens muda untuk menginternalisasi pesan-pesan keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa strategi dakwah Husain yang berakar pada prinsip hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujādalah bi-llatī hiya aḥsan dapat menjadi model dakwah kontemporer yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga bermakna secara spiritual. Model dakwah ini relevan dalam menghadirkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin dan mampu berinteraksi aktif dengan budaya digital tanpa kehilangan esensi keilahiannya.