Febriana Tri Wulandari
a:1:{s:5:"en_US";s:18:"Mataram University";}

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS SIFAT FISIKA MEKANIKA PAPAN LAMINASI KOMBINASI KAYU RAJUMAS BAMBU PETUNG DAN KAYU KEMIRI BAMBU PETUNG Febriana Tri Wulandari; Dini Lestari; Radjali Amin
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4, No 2 (2023): Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jc.v4i2.38

Abstract

Pemilihan spesies kayu rajumas, kemiri, dan bambu petung memiliki alasan yang khusus. Rajumas merupakan salah satu kayu lokal NTB yang merupakan kayu dengan berat jenis 0,31- 0,33 sehingga masuk ke kelas kuat IV. Selanjutnya untuk kayu kemiri memiliki berat jenis yang rendah yatu 0,33-0.39. Kayu dengan berat jenis ringan hingga sedang adalah pilihan yang sangat tepat untuk digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan papan laminasi karena memungkinkan penetrasi perekat ke permukaan kayu menjadi lebih mudah terbentuk. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam merancang kontruksi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di masa yang akan datang. Rancangan penelitian yang digunakan rancangan non faktorial dengan 2 perlakuan kombinasi dengan 3 ulangan. Sifat fisika dan mekanika kombinasi kayu rajumas dan bambu petung: kerapatan 0,54 gr/cm3 ; kadar air 14,65%; pengembangan tebal 1,93%; penyusutan tebal 2,72%; MoE 10753,59 kgf/cm2 ; MoR 326,28 kgf/cm2 . Sifat fisika dan mekanika kombinasi kayu kemiri dan bambu petung: kerapatan 0,45% ; kadar air 14,50% ; pengembangan tebal 4,15% ; penyusutan tebal 2,34% ; MoE 10953,46 kgf/cm2 ; MoR 209,01 kgf/cm2 .Hasil pengujian papan laminasi kombinasi kayu rajumas bambu petung dan kayu kemiri bambu petung tidak berpengaruh nyata terhadap sifat fisika dan mekanika kecuali pada pengujian pengembangan tebal dan Modulus of Rupture (MoR). Peningkatan kelas kuat IV menjadi kelas kuat III setelah dikombinasikan dengan bambu petung menjadi papan lamianasi. Berdasarkan hasil pengujian sifat fisika dan mekanika maka papan laminasi kombinasi kayu rajumas bambu petung dan kayu kemiri bambu petung masuk dalam kelas kuat III dapat digunakan untuk bahan baku konstruksi berat yang terlindungi.
KARATERISTIK SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA PAPAN LAMINASI KOMBINASI KAYU RAJUMAS BAMBU PETUNG, KAYU KEMIRI BAMBU PETUNG DAN PAPAN LAMINASI BAMBU PETUNG Febriana Tri Wulandari; Radjali Amin
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 1 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jc.v5i1.74

Abstract

Pemanfaatan jenis hasil kayu maupun bukan kayu dapat diperuntukkan sebagai bahan bangunan dan produk komposit lainnya seperti papan laminasi. Jenis kayu yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kayu rajumas dan kayu kemiri yang dikombinasikan dengan bambu petung. Kombinasi papan laminasi kayu dan non kayu tersebut dibandingkan dengan murni papan laminasi bambu petung tanpa kombinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristk sifat fisika dan mekanika papan laminasi kombinasi jenis kayu dan bukan kayu. Berdasarkan hasil pengujian sifat fisika maka papan laminasi kombinasi kayu rajumas bambu petung,kemiri bambu petung dan papan laminasi bambu petung telah memenuhi standar SNI 01-6240-2000 (kerapatan) dan JAS 234-2007 (kadar air, pengembangan tebal, penyusutan tebal) sementara untuk pengujian sifat mekanika (MoE dan MoR) belum memenuhi standar JAS 234-2007. Hasil uji anova menunjukan perlakuan berpengaruh nyata terhadap semua pengujian kadar air, kerapatan, pengembangan tebal dan penyusutan tebal sementara untuk pengujian MoE dan MoR tidak berpengaruh nyata. Peningkatan kelas kuat kayu setelah dibuat papan laminasi dari kelas kuat IV menjadi kelas kuat III. Berdasarkan hasil pengujian maka papan laminasi kombinasi kayu rajumas bambu petung,kemiri bambu petung dan papan laminasi bambu petung masuk dalam kelas kuat III yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi berat terlindungi.
PEMANFAATAN LIMBAH BIOMASSA CANGKANG KEMIRI DAN TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI BIOBRIKET RAMAH LINGKUNGAN Febriana Tri Wulandari; Dhimas Mardyanto Prasetyo
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahan baku untuk pembuatan briket arang dapat memanfaatkan berbagai limbah biomassa yang berasal dari sumber hayati seperti dari daunan, rumput, limbah pertanian dan rumah tangga. Limbah biomassa terdiri dari dua macam yaitu dari limbah kayu dan non kayu. Limbah biomassa yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah cangkang kemiri dan tempurung kelapa. Tempurung kelapa mempunyai komposisi kandungan selulosa 26,27 %, hemiselulosa 12,61 %, lignin 42,96 % dan cangkang kemiri mengandung holoselulosa 49,22%, lignin 54,46%. (Permana et al., 2012). Kandungan lignin yang tinggi berpotensi untuk menghasilkan nilai kalor yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas briket arang cangkang kemiri dan tempurung kelapa berdasarkan standar SNI 01-6235-2000, pengaruh perlakuan terhadap pengujian sifat fisis briket arang serta mengetahui nilai sifat fisis briket arang cangkang kemiri dan tempurung kelapa.Berdasarkan hasil pengujian kadar air cangkang kemiri dan tempurung kelapa telah memenuhi standar SNI 01-6235-2000. Nilai kadar abu briket arang cangkang kemiri dan tempurung kelapa belum memenuhi standar. Nilai zat terbang briket arang cangkang kemiri telah memenuhi standar sementara tempurung kelapa belum memenuhi standar. Nilai kalor cangkang kemiri memenuhi standar sementara tempurung kelapa belum memenuhi standar. Nilai karbon terikat briket arang cangkang kemiri dan tempurung kelapa telah memenuhi standar. Hasil uji analisis keragaman menunjukan perlakuan jenis bahan baku berpengaruh nyata terhadap kadar abu, kadar zat terbang, karbon terikat dan nilai kalor tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air. Nilai kadar air, kadar abu, zat terbang, karbon terikat, nilai kalor cangkang kemiri dan tempurung kelapa : 0,88%; 0,30%; 9,48%; 16.94%;11,79%; 19,30; 77,86%;63,48%; 5114 cal/gr; 3883 cal/gr. Berdasarkan nilai fisis maka briket arang cangkang kemiri memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan briket tempurung kelapa.
KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL INTEGRATIF AGROFORESTRY BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI KAWASAN KHDTK SENARU, LOMBOK UTARA Febriana Tri Wulandari
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.185

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik biofisik dan sosial, ragam model agroforestri, integrasi kearifan lokal, dampak, serta tantangan dan peluang pengembangan model integratif agroforestri di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Senaru, Lombok Utara. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Lokasi ditentukan secara purposif karena memiliki praktik agroforestri yang berkembang dan relevan sebagai model pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD), dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-kualitatif dan SWOT dengan validasi triangulasi sumber serta metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KHDTK Senaru memiliki keanekaragaman jenis tanaman yang tinggi, meliputi pohon tahunan, tanaman pangan, dan hortikultura, yang dikelola dengan pola tanam adaptif terhadap kondisi biofisik. Kearifan lokal seperti mengetu dan begibung berperan penting dalam menjaga harmoni sosial dan kelestarian lingkungan. Model agroforestri yang diterapkan memberikan dampak positif terhadap ketahanan pangan, pendapatan rumah tangga, konservasi tanah dan air, serta pemberdayaan masyarakat. Analisis SWOT mengidentifikasi kekuatan utama berupa keragaman vegetasi dan kelembagaan lokal yang solid, kelemahan pada keterbatasan teknologi dan kapasitas SDM, peluang pada dukungan kebijakan dan potensi pasar, serta ancaman dari perubahan iklim dan fluktuasi harga komoditas. Model integratif agroforestri berbasis kearifan lokal di KHDTK Senaru memiliki prospek besar untuk direplikasi di kawasan lain, dengan kunci keberhasilan pada sinergi pengetahuan tradisional dan inovasi ilmiah melalui pendekatan co-management.