AbstrakPenelitian ini meninjau secara komprehensif bentuk serta faktor pendorong partisipasi masyarakat dalam upaya konservasi mangrove di Provinsi Bali. Kajian ini berangkat dari pemahaman bahwa ekosistem mangrove memiliki peran geografis penting dalam stabilitas pesisir, penyediaan jasa ekosistem, dan ketahanan sosial-ekologis masyarakat pesisir. Melalui telaah literatur nasional maupun internasional, studi ini mengidentifikasi bahwa partisipasi masyarakat di Provinsi Bali umumnya terbagi dalam tiga bentuk: partisipasi langsung melalui penanaman dan pemeliharaan mangrove, partisipasi kelembagaan melalui kelompok masyarakat dan organisasi adat, serta partisipasi kolaboratif melalui kemitraan dengan NGO dan institusi pemerintah. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan program konservasi mangrove di Provinsi Bali sangat dipengaruhi kearifan lokal berbasis desa adat, dukungan kebijakan daerah, serta keberlanjutan pendampingan oleh NGO. Di sisi lain, tantangan seperti konflik pemanfaatan lahan pesisir, rendahnya literasi ekologi, dan ketergantungan pada proyek jangka pendek masih menghambat efektivitas partisipasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan geografis dalam memahami hubungan manusia-lingkungan yang membentuk pola partisipasi masyarakat, serta perlunya strategi pengelolaan yang berbasis komunitas, berkelanjutan, dan sensitif terhadap dinamika ruang pesisir.Kata Kunci: partisipasi masyarakat; mangrove; konservasi; pesisir; Bali. AbstractThis study comprehensively examines the forms and driving factors of community participation in mangrove conservation efforts in Bali Province. It begins with the recognition that mangrove ecosystems hold an essential geographical role—protecting coastlines, supporting vital ecosystem services, and strengthening the social and ecological resilience of Bali’s coastal communities. By reviewing both national and international literature, including reports from local NGOs, the study identifies three main forms of community participation: direct involvement in planting and maintaining mangroves, organizational participation through community groups and traditional village institutions, and collaborative efforts carried out in partnership with NGOs and government agencies. The findings show that successful mangrove conservation in Bali is strongly shaped by local wisdom embedded in the traditional village (desa adat) system, supportive regional policies, and ongoing facilitation from NGOs. However, persistent challenges remain, such as competition over coastal land use, limited ecological awareness, and reliance on short-term project funding. Overall, this study highlights the importance of applying a geographical perspective to understand how human–environment relationships influence patterns of community involvement. It also emphasizes the need for community-based, sustainable, and spatially responsive management strategies.Keywords: community participation; mangrove; conservation; coastal; Bali.