Konflik sosial di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan, khususnya pasca-insiden rasisme pelajar pada tahun 2025, tidak hanya merupakan fenomena sosial-politik, tetapi juga realitas teologis yang menuntut pembacaan iman secara kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk menafsir konflik Yalimo tersebut sebagai “teks hidup” melalui pendekatan hermeneutika filosofis. Metode yang digunakan adalah kajian kualitatif teologis dengan kerangka pemikiran Paul Ricoeur dan Hans-Georg Gadamer. Pendekatan ini digunakan untuk memahami konflik sebagai realitas simbolik yang mengandung makna penderitaan, sekaligus sebagai ruang dialog antara teks Alkitab dan konteks sosial Papua melalui konsep fusion of horizons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik tersebut berakar pada prasangka rasial dan keretakan komunikasi antarbudaya yang mendalam di masyarakat. Oleh karena itu, rekonsiliasi teologis tidak hanya bersumber dari pemahaman normatif terhadap teks Alkitab, tetapi juga dari dialog antara firman Tuhan dan pengalaman konkret masyarakat yang terluka. Analisis terhadap Mikha 6:8, Efesus 2:14–18, dan Matius 5:9 menegaskan bahwa keadilan, perdamaian, dan rekonsiliasi merupakan inti panggilan iman Kristen dalam konteks konflik.Artikel ini menyimpulkan, konflik tidak hanya dipahami sebagai krisis, tetapi juga sebagai ruang teologis bagi hadirnya karya rekonsiliasi Allah dalam kehidupan manusia.