Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

False Consciousness: The Cultural Identity Construction of Cele And Batik Within Moluccan Scholars in Ambon Elka Anakotta; Flavius Floris Andries
Al-Albab Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Graduate Program of Pontianak Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/alalbab.v10i1.1977

Abstract

Identity is a social construction. The Moluccan people are evident of this structure, especially regarding the policy of the obligation to wear cele (Moluccan traditional garment). This has become a process of identity construction involving culture and ethnicity for Moluccans. This paper discusses how Moluccan scholars who studied in Java understand their position wearing cele in the local context in Maluku. In addition, this paper also discusses the scholars’ views on how the process of identity negotiation between localism and nationalism is represented through cele and batik. Information for this study was gathered using a qualitative method with a cultural studies approach. The data were collected using several techniques including interviews, observation, and literature studies to answer research questions and problems. This paper shows that in response to the Moluccan government policy which requires the people to wear cele once a week, most scholars prefer to wear batik instead. One justification is related to cultural and religious aspects, noting cele is more familiar and originates from within the Christian community, while the Islamic community does not recognize cele in their culture. They consider that such policy leads to the construction of cultural identity based on false consciousness.
Dekonstruksi Budaya Patriakhal pada Film Perempuan Berkalung Sorban Elka Anakotta
Jurnal Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajaran (KIBASP) Vol 3 No 2 (2020): Jurnal KIBASP (Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajaran)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.262 KB) | DOI: 10.31539/kibasp.v3i2.1257

Abstract

This study aims to deconstruct patriarchal culture by using the film Perempuan Berkalung Sorban, through the binary opposition of patriarchal culture built, by reversing the binary opposition. Film content in the world of pesantrem is very thick with patriarchal cunlture that fences it, and the deconstruction of this culture is done both by the main characters namely Anisa, Khudori (Anisa husband), Anisa’s mother, and some female students who in many ways oppose culture that places women as inferior, weak, and dependent to men. Anisa’s deperate efforts despite having to return to “prison” became never ending struggle because there will still many who opposed what she did. Keywords: Decontruction, Patriarkhal cultural, The Film Perempuan Berkalung Sorban
MEMBENTUK KEDIPLINAN DAN MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA: STUDI BERDASARKAN PEMIKIRAN JOHN DEWEY JUNTAK, JUSTIN NIAGA SIMAN; SETYANTI, ELIANA; ANAKOTTA, ELKA; LESILOLO, HERLY J.
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v4i2.2826

Abstract

Education is something that is planned and planned from an educational person to his students, so that the goals of education can be achieved. Likewise, the education carried out at UKTS as a private campus in Surakarta includes lectures in the SPARK program which carries the concept of Smart, Proactive, Innovative, Collaborative, Christian Values which is expected to bring progress in the field of education. One way to realize student discipline and motivation to learn is to hold morning and afternoon assembly activities with a semi-military "like" model with the hope that students will increase their discipline and motivation to study. The aim of this research is to see whether the discipline and motivation to learn in students can be formed through semi-military education as seen from the literature study of John Dewey's thoughts. The results of the research revealed that students' learning motivation and discipline tend to be low, because students come to study only because they get a scholarship and students also study with compulsion because of the disciplinary process implemented by the campus, which is a mismatch with John Dewey's thinking which emphasizes that education must prepare students to live in society. ABSTRAKPendidikan adalah sesuatu yang terencana dan direncanakan dari seorang pendidikan kepada siswanya, sehingga tujuan dari pendidikan dapat tercapai. Demikian pula pendidikan yang dilakukan di UKTS sebagai kampus swasta di Surakarta mengadalam perkuliahan dalam program SPARK yang mengusung konsep Smart, Proacktive, Innovative, Collaborative, Christian Values diharapkan akan membawa kemajuan di bidang pendidikan. Salah satu cara untuk mewujudkan kedispilinan dan motivasi belajar mahasiswa maka diadakan kegiatan apel pagi dan sore dengan model “mirip” semi militer dengan harapan bahwa mahasiswa meningkat kedisiplinan dan motivasi belajarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah untuk membentuk kediplinan dan motivasi belajar mahasiswa melalui pendidikan semi militer dilihat dari studi literatur pemikiran John Dewey. Hasil penelitian terungkap bahwa motivasi belajar dan kedisiplinan mahasiswa cenderung rendah, karena mahasiswa datang untuk belajar hanya karena mereka mendapatkan beasiswa dan mahasiswa belajar juga dengan keterpaksaan karena proses pendisiplinan yang diterapkan oleh pihak kampus, dimana adanya ketidaksesuaian dengan pemikiran John Dewey yang menekankan bahwa pendidikan harus mempersiapkan siswa untuk hidup di masyarakat.
Layanan Edukatif Dalam Dinamika Sosial di Jemaat GPM Waipirit : Pengabdian Sapulette, Alce Albartin; Anakotta, Elka; Pattiruhu, Hellen; Wariunsora, Marlen; Ririhena, Ira; Lesbatta, Charles
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 3 No. 4 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 3 Nomor 4 (April 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v3i4.515

Abstract

Era industri 4.0 merupakan fase revolusi teknologi, hal ini memberikan perubahan dalam hal beraktivitas. Perubahan yang terjadi salah satunya memudahkan manusia dalam aktivitas yang dilakukan. Selain memberikan kemudahan dalam beraktivitas, perlu disadari adanya dampak buruk dalam era digitalisasi ini. Dampak buruk tersebut paling rentang pada satuan sosial masyarakat, yaitu komunikasi antara orang tua dan anak menjadi semakin berkurang. Setiap anggota keluarga akan sibuk dengan gawai masing-masing, sekalipun berada dalam satu rumah. Fungsionalitas gawai yang lengkap maka anak dan remaja sering mengganggap bahwa gawailah hidup mereka, sehingga akan memberikan dampak pada pendidikan, kesehatan, sosial dan juga ekonomi. Perilaku sosial masyarakat ketika dibawa ke dalam ranah pelayanan dan kehidupan berjemaat, ditemukan perilaku kontradiktif antara apa yang diajarkan dalam lingkungan berjemaat dan kenyataan sosial yang terjadi. Masalah lain yang perlu diperhatikan dengan serius adalah adanya anggota jemaat yang masih percaya akan okultisme. Masalah dinamika sosial lainnya yaitu ditemukan ketidaksopanan berbahasa antara orang tua dan anak. Ketidaksopanan berbahasa dan interaksi sosial seperti ini tidak hanya dilakukan dalam dunia nyata, tetapi juga dalam dunia media sosial. Oleh sebab itu, perlu adanya layanan edukatif untuk memberikan penyadaran bahasa dan bagaimana berinteraksi sosial yang seharusnya bagi umat dan pelayan.
Hermeneutika Rekonsiliasi Kritis: Menafsir Insiden Rasisme Pelajar di Yalimo sebagai Teks Hidup James Fransinopik; Meldy Berhitu; Elka Anakotta
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 8 (2025): Agustus
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i8.4234

Abstract

Konflik sosial di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan, khususnya pasca-insiden rasisme pelajar pada tahun 2025, tidak hanya merupakan fenomena sosial-politik, tetapi juga realitas teologis yang menuntut pembacaan iman secara kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk menafsir konflik Yalimo tersebut sebagai “teks hidup” melalui pendekatan hermeneutika filosofis. Metode yang digunakan adalah kajian kualitatif teologis dengan kerangka pemikiran Paul Ricoeur dan Hans-Georg Gadamer. Pendekatan ini digunakan untuk memahami konflik sebagai realitas simbolik yang mengandung makna penderitaan, sekaligus sebagai ruang dialog antara teks Alkitab dan konteks sosial Papua melalui konsep fusion of horizons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik tersebut berakar pada prasangka rasial dan keretakan komunikasi antarbudaya yang mendalam di masyarakat. Oleh karena itu, rekonsiliasi teologis tidak hanya bersumber dari pemahaman normatif terhadap teks Alkitab, tetapi juga dari dialog antara firman Tuhan dan pengalaman konkret masyarakat yang terluka. Analisis terhadap Mikha 6:8, Efesus 2:14–18, dan Matius 5:9 menegaskan bahwa keadilan, perdamaian, dan rekonsiliasi merupakan inti panggilan iman Kristen dalam konteks konflik.Artikel ini menyimpulkan, konflik tidak hanya dipahami sebagai krisis, tetapi juga sebagai ruang teologis bagi hadirnya karya rekonsiliasi Allah dalam kehidupan manusia.
Representasi Sains dan Rekonstruksi Peradaban dalam Anime Dr. Stone: Analisis Hermeneutika Friedrich Schleiermacher Febrilianti, Febrilianti; Anakotta, Elka
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 9 (2025): September
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i9.4274

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi sains dan rekonstruksi peradaban dalam anime Dr. Stone melalui hermeneutika Friedrich Schleiermacher serta menelaah relevansinya bagi Pendidikan Agama Kristen. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif kepustakaan melalui pembacaan Dr. Stone Season 1 sebagai sumber primer dan artikel ilmiah terkait sebagai sumber sekunder. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan interpretasi gramatikal, interpretasi psikologis, dan lingkar hermeneutik untuk membaca anime sebagai teks budaya audiovisual. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sains dalam Dr. Stone tidak hanya berfungsi sebagai pengetahuan teknis, tetapi juga sebagai dasar simbolik dan praktis bagi pembentukan kembali kehidupan bersama. Pada tataran gramatikal, makna dibangun melalui dialog, istilah ilmiah, dan struktur naratif, sedangkan pada tataran psikologis ia tamPendidikan Agama Kristen sebagai harapan, tanggung jawab, kerja sama, dan orientasi masa depan. Pembacaan ini juga memperlihatkan bahwa hasil interpretasi hermeneutik dapat diterjemahkan ke ranah pedagogis secara lebih konkret. Secara teologis, anime ini membuka ruang refleksi Pendidikan Agama Kristen tentang sains sebagai tanggung jawab iman dalam mandat budaya, hikmat, dan pemeliharaan Allah.
Fusi Horizon Gadamer: Hermeneutika Dialogis Alkitab dalam Pendidikan Agama Kristen Era Digital Sopamena, Gricebeth; Pormes, Frangklin; Anakotta, Elka
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7847

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer, khususnya konsep fusi horizon (Horizontverschmelzung), dalam membangun model interpretasi Alkitab yang dialogis pada Pendidikan Agama Kristen (PAK) di era digital. Latar belakang penelitian ini berangkat dari transformasi digital yang secara signifikan mengubah pola pembelajaran, interaksi sosial, serta pembentukan spiritualitas generasi muda, sehingga pendekatan pedagogis konvensional dinilai tidak lagi memadai dalam menjawab kebutuhan peserta didik yang tumbuh dalam lingkungan digital. Permasalahan utama penelitian terletak pada bagaimana teks Alkitab yang memiliki horizon historis dapat dipahami secara kontekstual dan relevan oleh generasi digital tanpa kehilangan esensi nilai-nilai Kristiani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) dan analisis hermeneutik-filosofis terhadap karya-karya utama Gadamer serta literatur pendukung yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep fusi horizon memungkinkan terjadinya dialog dinamis antara horizon teks Alkitab, tradisi iman Kristen, dan pengalaman eksistensial peserta didik dalam konteks digital. Integrasi teknologi, seperti platform pembelajaran daring, forum diskusi virtual, media sosial, dan kecerdasan buatan, berfungsi sebagai medium hermeneutik yang memperkaya proses pemahaman iman secara reflektif, kontekstual, dan transformatif. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa pendekatan hermeneutika dialogis mampu meningkatkan relevansi pembelajaran PAK bagi generasi digital, sekaligus memperkuat internalisasi nilai-nilai Kristiani pada ranah kognitif, afektif, dan aplikatif. Namun demikian, tantangan seperti disinformasi, distorsi interpretasi, dan rendahnya literasi digital tetap menjadi hambatan yang perlu diantisipasi. Oleh karena itu, sintesis antara hermeneutika Gadamer dan literasi digital menjadi strategi penting dalam membentuk iman yang kritis, adaptif, dan resilien di tengah dinamika era digital.
Interpretasi Makna Lirik Lagu “Ada Titik-Titik di Ujung Doa” Karya Sal Priadi melalui Pendekatan Hermeneutik Schleiermacher Lilipory, Anna Novinta; Soplanit, Felani; Anakotta, Elka
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 1 (2026): April: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurribah.v5i1.8746

Abstract

This study seeks to interpret the meaning of the lyrics in the song “Ada Titik‑Titik di Ujung Doa” by Sal Priadi through Schleiermacher’s hermeneutic approach. The song reveals a subtle spiritual dimension by means of metaphor and poetic language, portraying prayer as a personal, reflective, and hope‑laden form of inner conversation amid the uncertainty of life in the post‑pandemic era. By adopting a qualitative interpretive method, the research examines the song lyrics through Schleiermacher’s two principal dimensions: grammatical interpretation and psychological interpretation. The analysis shows that prayer in this song is not merely a conventional religious ritual, but an existential expression of human beings facing loss, isolation, and unfulfilled hopes. The phrase “titik‑titik di ujung doa” functions as a symbolic space of incomplete psycho‑spiritual longing, in which prayer is understood as an open, fragmented, and repetitive process, as well as a medium for reconciling with the past and seeking forgiveness for both oneself and others. Within Schleiermacher’s hermeneutic framework, the interpretation of these lyrics suggests that prayer in contemporary Indonesian pop music serves as a representation of human resilience, personal, reflective, and subtly critical of the notion that divine response must always be complete and perfectly resolved.
Sopi sebagai Simbol Persaudaraan dan Rekonsiliasi: Dialog Hermeneutika Paul Ricoeur dengan Perspektif Biblika dalam Tradisi Maluku Sahertian, Claudia; Anakotta, Elka
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8003

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik sopi dalam budaya Maluku serta mendialogkannya dengan simbol anggur dalam tradisi Yahudi dan Kekristenan melalui pendekatan hermeneutika simbolik Paul Ricoeur. Dalam masyarakat Maluku, sopi tidak hanya dipahami sebagai minuman tradisional, tetapi juga sebagai simbol budaya yang merepresentasikan nilai persaudaraan, solidaritas, rekonsiliasi, dan komitmen sosial. Namun, keberadaan sopi juga menghadirkan ambivalensi karena sering dikaitkan dengan penyalahgunaan alkohol dan konflik sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka. Data primer diperoleh dari teks Alkitab dan sumber etnografis mengenai praktik budaya sopi, sedangkan data sekunder berasal dari buku, jurnal ilmiah, dan kajian teologi kontekstual. Analisis dilakukan melalui identifikasi simbol budaya sopi, interpretasi hermeneutis, pembacaan simbol anggur dalam tradisi biblika, serta dialog kontekstual antara budaya lokal dan teologi Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sopi memiliki fungsi simbolik sebagai medium pengesahan relasi sosial, pemelihara memori kolektif, dan pembentuk etika persaudaraan dalam masyarakat Maluku. Sementara itu, anggur dalam tradisi Yahudi-Kristen dimaknai sebagai simbol sukacita, berkat, persekutuan, dan kasih karunia Allah, terutama dalam Perjamuan Kudus. Dialog teologis antara sopi dan anggur memperlihatkan adanya titik temu pada nilai persaudaraan, rekonsiliasi, dan tanggung jawab bersama tanpa menyamakan horizon makna keduanya. Penelitian ini menegaskan bahwa budaya lokal dan iman Kristen dapat saling memperkaya dalam membangun kehidupan bersama yang damai, adil, dan bermartabat.
Interpretasi Makna Lirik Lagu “Sesi Potret” Karya Ari Lesmana melalui Pendekatan Hermeneutik Friedrich Schleiermacher Rarsina, Susana; Layan, Andre; Anakotta, Elka
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8560

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan makna lirik lagu “Sesi Potret” karya Ari Lesmana melalui pendekatan hermeneutik Friedrich Schleiermacher. Di tengah perkembangan musik populer, lagu dipahami sebagai teks budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai representasi pengalaman eksistensial manusia yang mengandung makna simbolik serta reflektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif interpretatif dengan menitikberatkan pada dua dimensi utama hermeneutika Schleiermacher, yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis, serta konsep lingkaran hermeneutik sebagai kerangka analisis utama. Data penelitian berupa lirik lagu yang dianalisis secara mendalam untuk memahami hubungan antara teks, pengarang, dan pengalaman pendengar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara gramatikal simbol “potret” merepresentasikan memori yang terfragmentasi, sedangkan istilah “sesi” menegaskan keterbatasan waktu dalam kehidupan manusia. Pemilihan diksi dalam lagu membangun suasana reflektif yang menampilkan hubungan erat antara kenangan, kehilangan, dan pencarian identitas diri. Secara psikologis, lagu ini merefleksikan dunia batin pengarang yang bergulat dengan kesadaran akan waktu, kerinduan terhadap masa lalu, dan upaya memahami makna hidup di tengah perubahan. Melalui lingkaran hermeneutik, makna lagu dipahami sebagai sesuatu yang dinamis dan terbuka karena dipengaruhi oleh interaksi antara teks dan pengalaman subjektif pendengar. Secara kritis, lagu ini juga merefleksikan kehidupan modern yang cenderung dangkal, ketika manusia lebih fokus mengabadikan momen daripada menghayati pengalaman hidup itu sendiri. Dengan demikian, lagu “Sesi Potret” memiliki nilai estetis sekaligus reflektif dalam memahami relasi kompleks antara waktu, kenangan, dan eksistensi manusia di era kontemporer.