Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Risiko Keamanan pada Mekanisme Lazy Minting Berbasis EIP-712 di Ekosistem Ethereum Abdillah AG; Ike Ardianti; Alhadi Saputra
Prosiding Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 (2026): Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SAINTEK) ke 5 - Februari 2026
Publisher : DPPM Universitas Pelita Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada perkembangan teknologi web3 terutama NFT saat ini, Lazy minting menjadi mekanisme yang dominan digunakan pada marketplace NFT dengan menghilangkan biaya gas di awal minting melalui pembuatan voucher berbasis tanda tangan off-chain. Meskipun pendekatan ini dianggap menurunkan hambatan masuk untuk pengguna dan meningkatkan partisipasi pasar, mekanisme tersebut menggeser asumsi arsitektur melinting dari validasi sepenuhnya yang dilakukan secara on-chain menjadi model otorisasi hibrida off-chain–on-chain. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan kerangka PRISMA dan mensintesis 15 literatur terpilih terkait kebijakan lazy minting, implementasi standar EIP-712, kerentanan replay signature, meta-transaction, serta risiko usability yang terjadi pada wallet. Hasil sintesis dari penelitian ini menunjukkan bahwa, meskipun standar EIP-712 meningkatkan kejelasan pesan melalui structured signing dan domain separation, implementasi yang lemah pada pengelolaan nonce dan pemisahan domain tetap membuka celah untuk terjadinya replay attack. Selain itu, mekanisme lazy minting juga memperluas trust boundary dengan melibatkan relayer dan marketplace, sehingga mengubah lanskap risiko dibandingkan model minting tradisional. Penelitian ini mengintegrasikan perspektif ekonomi, kriptografi, dan pengalaman pengguna (UX) untuk membangun model risiko yang terintegrasi pada proses lazy minting berbasis standar EIP-712 pada ekosistem NFT.
Implementasi Tanda Tangan Digital Berbasis Kombinasi Algoritma Digital Signature Algorithm Dan Rivest Shamir Adleman Candra Rizki Nanjung Kharisma; Suprapto Suprapto; Alhadi Saputra
JURNAL INFORMATIKA Vol 15, No 1 (2026): Jurnal Informatika
Publisher : Informatics Engineering Department, Dayanu Ikhsanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55340/jiu.v15i1.2684

Abstract

Dokumen digital membutuhkan mekanisme autentikasi dan integritas yang andal untuk memastikan keaslian penandatangan dan ketidakubahan isi setelah distribusi. Penelitian terdahulu umumnya hanya mengandalkan satu algoritma tanda tangan utama (DSA atau RSA secara terpisah) tanpa lapisan verifikasi tambahan pada RSA-PSS, sehingga terdapat gap pada model implementasi yang menggabungkan keduanya untuk mendeteksi pemalsuan isi, penggantian QR Code, dan penggunaan secret code tidak sah dalam satu alur terintegrasi. Selain itu, profil waktu eksekusi komponen kriptografi dan non-kriptografi pada implementasi PDF berbasis desktop belum diukur secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengimplementasikan skema tanda tangan digital DSA-RSA-PSS berbasis SHA-256 pada dokumen PDF menggunakan Python; (2) mengukur waktu eksekusi tiap komponen kriptografi (hashing, signing DSA, signing RSA-PSS) dan non-kriptografi (render PDF, deteksi QR Code) pada variasi dokumen 5 hingga 20 halaman; dan (3) mengevaluasi ketahanan sistem terhadap empat skenario keamanan. Dalam alur yang diusulkan, SHA-256 menghasilkan hash dokumen, DSA membentuk tanda tangan utama, dan RSA-PSS menambahkan lapisan verifikasi kedua yang disisipkan ke dalam QR Code. Hasil menunjukkan dokumen asli berhasil diverifikasi, sementara dokumen dengan secret code salah, perubahan isi, atau QR Code yang dimodifikasi berhasil ditolak. Rata-rata waktu hashing 0,0018 detik, signing DSA 0,0014 detik, signing RSA-PSS 0,0028 detik, dan render PDF menjadi beban terbesar sebesar 0,863 detik (±43,27% dari total proses). Kontribusi utama adalah prototipe verifikasi PDF offline yang mengintegrasikan deteksi pemalsuan isi, penggantian QR Code, dan validasi secret code dalam satu alur kerja. Penerapan produksi masih memerlukan integrasi Certificate Authority dan pengelolaan kunci berbasis Public Key Infrastructure.