Anang Wijatmiko
Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peranan Psikologi Pendidikan dalam Mendukung Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di SMKN 1 Ponorogo Kuntianah Kuntianah; Khurrota A’yuni; Anang Wijatmiko; Sumaji Sumaji
Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Vol. 9 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jsgp.9.1.2026.8011

Abstract

Pembelajaran mendalam (deep learning) merupakan pendekatan belajar yang menekankan pemahaman konsep secara reflektif, analitis, dan aplikatif, sehingga murid mampu mengaitkan pengetahuan, menstransfer konsep, serta menerapkannya dalam berbagai konteks. Di SMK, pendekatan ini menjadi penting karena lulusan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis dan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mendukung kesiapan kerja dan pembelajaran sepanjang hayat. Artikel ini bertujuan menganalisis peranan psikologi pendidikan dalam mendukung terciptanya pembelajaran mendalam pada proses belajar mengajar di SMKN 1 Ponorogo. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (library reseaach) dengan menelaah berbagai teori dan hasil penelitian terkait psikologi belajar, perkembangan kognitif murid, motivasi belajar, dan strategi pembelajaran yang relevan dengan karakteristik murid SMK. Literatur yang dikaji dipilih berdasarkan beberapa kriteria, yaitu: (1) relevansi dengan topik pembelajaran mendalam (deep learning) dan psikologi pendidikan; (2) bersumber dari buku ilmiah dan artikel jurnal bereputasi; (3) dipublikasikan dalam rentang sepuluh tahun terakhir, kecuali teori klasik yang masih relevan secara konseptual; serta (4) memiliki kredibilitas akademik yang ditunjukkan melalui proses telaah sejawat (peer review). Proses analisis dilakukan dengan mengidentifikasi, membandingkan, dan mensintesis temuan-temuan utama dari berbagai sumber untuk memperoleh pemahaman komprehensif mengenai peranan psikologi pendidikan dalam mendukung pembelajaran mendalam di SMK Hasil kajian menunjukkan bahwa psikologi pendidikan berperan penting dalam pembelajaran mendalam (deep learning) yaitu dengan menggeser pembelajaran dari pendekatan permukaan yang berorentasi pada hafalan menuju pembelajaran reflektif, analitis, dan berbasis pemecahan masalah.
KONSTRUKTIVISME SEBAGAI RESISTENSI TERHADAP KRISIS REFLEKSI GENERASI Z DI ERA DIGITAL Anang Wijatmiko; Khamim Qolili; Prasetyo Karyo Utomo; Febrian Afirsta Kusumajaya; Nanda Hasnan Fardany; Arief Rahman Yusuf
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9266

Abstract

Generation Z, as digital natives, faces serious challenges in vocational education, particularly in the Software Engineering (RPL) program. Observations at SMKN 1 Ponorogo reveal a reflection crisis, where students rely heavily on short tutorials from YouTube or online forums to complete assignments. This pattern creates a culture of tutorialism and illusion of competence, in which technical success is considered sufficient without conceptual understanding or social awareness. The urgency of this study lies in the need to restore reflective meaning in digital vocational education so that it does not merely produce compliant technicians but individuals who are critical and responsible. This research aims to examine constructivism as a paradigm of resistance to the reflection crisis of Generation Z. The study employs a qualitative descriptive approach with a case study design. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews with students and teachers, documentation, and focus group discussions (FGD). Thematic analysis was applied with source and method triangulation to ensure validity. The findings highlight four key aspects: (1) the emergence of tutorialism and illusion of competence in RPL learning; (2) an epistemological crisis underlying shallow technical practices; (3) constructivism functioning as a form of pedagogical resistance to the instant digital culture; and (4) the reconstruction of the RPL teacher’s role as a facilitator of critical reflection, emphasizing process rather than mere outcomes.  In conclusion, constructivism is not only a learning strategy but also a pedagogical paradigm capable of restoring reflection as the core of vocational education in the digital era.  ABSTRAK Generasi Z sebagai digital native menghadapi tantangan serius dalam pembelajaran vokasi, khususnya di jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Observasi di SMKN 1 Ponorogo menunjukkan adanya krisis refleksi, di mana siswa lebih banyak mengandalkan tutorial singkat dari YouTube atau forum daring untuk menyelesaikan tugas. Pola ini melahirkan budaya tutorialisme dan ilusi kompetensi, yaitu keberhasilan teknis dianggap cukup tanpa pemahaman konseptual maupun kesadaran sosial. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk mengembalikan makna reflektif dalam pendidikan vokasi digital agar tidak sekadar melahirkan teknisi patuh, tetapi individu yang kritis dan bertanggung jawab.Penelitian ini bertujuan menelaah konstruktivisme sebagai paradigma resistensi terhadap krisis refleksi generasi Z. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan siswa dan guru, dokumentasi, serta focus group discussion (FGD). Analisis dilakukan secara tematik dengan triangulasi sumber dan metode untuk menjaga validitas. Temuan penelitian menunjukkan empat hal utama: (1) munculnya budaya tutorialisme dan ilusi kompetensi dalam pembelajaran RPL; (2) adanya krisis epistemologis di balik praktik teknis yang dangkal; (3) konstruktivisme berfungsi sebagai bentuk resistensi pedagogis terhadap budaya instan digital; dan (4) rekonstruksi peran guru RPL sebagai fasilitator refleksi kritis yang menekankan proses, bukan sekadar hasil. Sehingga,konstruktivisme bukan hanya strategi pembelajaran, tetapi juga paradigma pedagogis yang mampu mengembalikan refleksi sebagai inti pendidikan vokasi di era digital.