Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh senam kaki diabetik terhadap tingkat sensitivitas kaki pada diabetes melitus tipe 2 Tri Endah Widiarti; Widiastuti Widiastuti; Sriyati Sriyati
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2519

Abstract

Background:  Diabetic foot exercises are exercises performed by diabetics to prevent wounds and improve blood circulation in the feet. Stimulating sensitivity in the soles of the feet affects nerves and can lead to a variety of problems known as neuropathy. The physiological effects of regular foot exercises will achieve both mechanical and reflex effects. Purpose: The aim of this study was to determine the effect of diabetic foot exercises on the level of foot sensitivity in type 2 diabetes mellitus patients. Results: The results of data analysis using the Wilcoxon test obtained a correlation coefficient value of -3.994 weak with a significance of 0.000 because the p value ≥0.05, then Ha is accepted and Ho is rejected, which means there is an effect of diabetic foot exercise on the level of foot sensitivity in type 2 diabetes mellitus patients. Conclusion: There is an effect of diabetic foot exercises on the level of foot sensitivity in type 2 diabetes mellitus patients.   Keywords: Foot Exercises; Foot Sensitivity.   Pendahuluan: Senam kaki diabetik merupakan latihan yang dilakukan bagi penderita untuk mencegah terjadinya luka dan membantu peredaran darah bagi kaki. Sensitivitas kaki yang merangsang didaerah telapak kaki yang dipengaruhi oleh saraf dan menyebabkan beragam masalah yang disebut dengan neuropati. Efek fisiologis senam kaki yang dilakukan secara rutin akan mencapai efek mekanis dan refleks yang terjadi.   Tujuan: untuk mengetahui pengaruh senam kaki diabetik terhadap tingkat sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi-eksperimen, dan pendekatan waktu yang digunakan adalah cross- sectional. Hasil: Analisa data menggunakan uji wilcoxon diperoleh nilai koefisien korelasi -3.994 (lemah) dengan signifikansi sebesar 0,000 karena nilai p value ≥0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang berarti terdapat pengaruh senam kaki diabetik terhadap tingkat sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe 2. Simpulan:Terdapat pengaruh senam kaki diabetik terhadap tingkat sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe.   Kata Kunci: Senam Kaki; Sensitivitas Kaki.
GAMBARAN KARAKTERISTIK SOSIODEMOGRAFI LANSIADENGAN DIABETES MELITUS TIPE II DI POSYANDU LANSIA DUSUN DUKUH GEDONGKIWO Ruhyana; Widiastuti; Novita Savitri Anggraeni; Ruhyana Ruhyana; Widiastuti Widiastuti
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 10 (2026): Maret 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Melitus Tipe II merupakan penyakit kronis yang banyak dialami oleh lansia dan dipengaruhi oleh berbagai faktor karakteristik individu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik sosiodemografi lansia dengan Diabetes Melitus Tipe II meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status ekonomi, dan status pernikahan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 56 responden lansia penderita Diabetes Melitus Tipe II yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara menggunakan instrumen penelitian, kemudian dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia lanjut 60–74 tahun sebesar 66,1%, berjenis kelamin perempuan sebesar 75,0%, memiliki tingkat pendidikan rendah dengan lulusan Sekolah Dasar sebagai proporsi terbesar sebesar 28,6%, serta memiliki status ekonomi rendah dengan pendapatan kurang dari Rp500.000 sebesar 62,5%. Mayoritas responden berstatus menikah sebesar 69,6%. Temuan ini menunjukkan bahwa Diabetes Melitus Tipe II pada lansia lebih dominan terjadi pada kelompok usia lanjut, perempuan, berpendidikan rendah, dan berstatus ekonomi rendah, dengan sebagian besar masih memiliki pasangan hidup. Karakteristik tersebut perlu menjadi perhatian dalam perencanaan intervensi promotif dan preventif serta pengelolaan Diabetes Melitus Tipe II yang menekankan pada edukasi kesehatan, dukungan sosial, dan peningkatan akses layanan kesehatan bagi lansia