Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Stimulasi Linguistik Melalui Tiktok dan Lingkungan Sosial pada Anak Usia 3–6 Tahun: Analisis Behaviorisme Skinner Haerana Haerana; Juanda Juanda*; Nensilianti Nensilianti
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jd.v9i1.5871

Abstract

This study aims to describe the utilization of the TikTok platform as a medium for language acquisition among children aged 3–6 years, viewed through a psycholinguistic approach using B.F. Skinner’s Behaviorist Theory. The research focuses on identifying linguistic stimuli presented in TikTok content, children’s verbal responses (including mand, tact, echoic, and intraverbal), and reinforcement patterns that support language acquisition. This research applies a descriptive qualitative method, with data derived from educational TikTok accounts such as @belajardariibu_, @dhaneswara.kids, and @dunia.edukasianak_, along with observations of children’s interactions with these contents. Data analysis followed the three stages of Miles and Huberman’s model: data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that TikTok provides rich linguistic stimuli in the form of audio, visual, and textual cues that attract children’s attention. Verbal responses emerged in the form of imitation, object naming, and simple question–answer exchanges. Positive reinforcement from parents and the surrounding environment plays a crucial role in strengthening these responses, enabling the effective operation of the stimulus–response–reinforcement process. Consequently, TikTok can serve as an interactive and effective tool for early language learning when used under proper supervision and guidance.Keywords: acquisition; behaviorism;  children; TikTok Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan platform TikTok sebagai media pemerolehan bahasa anak usia 3–6 tahun melalui pendekatan psikolinguistik dengan menggunakan teori Behaviorisme B.F. Skinner. Fokus penelitian diarahkan pada bentuk stimulus linguistik yang muncul dalam konten TikTok, respons verbal anak (meliputi mand, tact, echoic, dan intraverbal), serta bentuk penguatan (reinforcement) yang mendukung pemerolehan bahasa anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa video TikTok dari akun edukatif seperti @belajardariibu_, @dhaneswara.kids, dan @dunia.edukasianak_, serta hasil observasi terhadap anak usia dini berinteraksi dengan konten tersebut. Data dianalisis menggunakan tiga tahapan analisis Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok memberikan stimulus linguistik berupa suara, gambar, dan teks yang menarik perhatian anak. Respons anak tampak melalui perilaku verbal seperti meniru, menamai objek, hingga merespons pertanyaan sederhana. Penguatan positif dari orang tua dan lingkungan berperan penting dalam memperkuat respons anak, sehingga proses stimulus–respons–reinforcement berjalan secara efektif. Dengan demikian, TikTok dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bahasa yang interaktif, selama terdapat pengawasan dan pengarahan dari orang dewasa.Kata Kunci: pemerolehan; behaviorisme;  anak; TikTok
Representasi Gender dalam Media Sosial TikTok: Kajian Semiotika Visual Sosial Theo van Leeuwen dan Gunther Kress Wulan Fadillah; Juanda Juanda*; Nensilianti Nensilianti
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jd.v9i1.5889

Abstract

This article will describe forms of gender representation in TikTok video content based on Theo van Leeuwen and Gunther Kress's theory of Social Visual Semiotics. The research was conducted using a descriptive qualitative approach with an analysis of three visual metafunctions: representational meaning, interactional meaning, and compositional meaning. Data were obtained through documentation techniques and non-participant observation of gender-themed TikTok content. The results show that TikTok is a multimodal space that displays various forms of gender representation, ranging from the reinforcement of traditional stereotypes to resistance to gender role constraints. Multimodal elements such as visuals, text, audio, gestures, camera angles, and lighting work simultaneously to shape social meaning. TikTok thus functions as an ideological arena that helps build public awareness of gender equality.Keywords: multimodality; gender representation; social visual semiotics; TikTokArtikel ini akan mendeskripsikan bentuk representasi gender dalam konten video TikTok berdasarkan teori Semiotika Visual Sosial Theo van Leeuwen dan Gunther Kress. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis tiga metafungsi visual, yaitu representational meaning, interactional meaning, dan compositional meaning. Data diperoleh melalui teknik dokumentasi dan observasi nonpartisipan terhadap konten TikTok bertema gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok menjadi ruang multimodal yang menampilkan beragam bentuk representasi gender, mulai dari penguatan stereotip tradisional hingga resistensi terhadap batasan peran gender. Elemen multimodal seperti visual, teks, audio, gestur, sudut pandang kamera, dan pencahayaan bekerja secara simultan membentuk makna sosial. TikTok dengan demikian berfungsi sebagai arena ideologis yang turut membangun kesadaran masyarakat terhadap kesetaraan gender.Kata kunci: multimodalitas; representasi gender; semiotika visual sosial; TikTok