Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi penolakan terhadap stereotip “ibu peri” dalam album Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya karya Nadin Amizah. Nadin Amizah sering dilekatkan dengan stereotip “ibu peri” oleh para penggemarnya karena citra vokal yang lembut serta estetika visual yang identik dengan nuansa feminim dan puitis. Stereotip tersebut dapat berpotensi mengaburkan kompleksitas dari identitas seorang seniman. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Data penelitian berupa kata, frasa, dan bait dalam lirik lagu yang merepresentasikan penolakan terhadap stereotip tersebut. Pengumpulan data menggunakan teknik simak dan catat. Analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sebelas lagu dalam album tersebut, terdapat lima lagu yakni Jangan Ditelan, Rayuan Perempuan Gila, Tapi Diterima, Tawa, dan Nadin Amizah yang merepresentasikan penolakan terhadap stereotip “ibu peri” melalui tiga lapisan semiotika Barthes. Pada tingkat denotasi, lirik tersebut secara harfiah mennghadirkan diksi yang bertentangan langsung dengan citra kesucian dan kelembutan, yakni berupa pengakuan atas luka, kemarahan, dan pengalaman pahit yang selama ini tersembunyi di balik stereotip. Pada tingkat konotasi, makna tersebut berkembang menjadi bentuk resistensi tegas terhadap konstruksi sosial yang membelenggu perempuan pada citra ideal yang lembut dan sempurna, dengan menempatkan perempuan sebagai subjek yang berhak atas seluruh pengalaman emosionalnya. Sementara itu, pada tingkat mitos keseluruhan album berfungsi sebagai narasi tandingan yang secara tegas membongkar dan mendeskonstruksi mitos kesempurnaan yang melekat dalam stereotip “ibu peri”, sekaligus menegaskan identitas identitas seniman sebagai individu yang kompleks, dinamis, dan multidimensional.