Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REPRESENTASI PENOLAKAN “IBU PERI” DALAM ALBUM UNTUK DUNIA, CINTA, DAN KOTORNYA KARYA NADIN AMIZAH: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES Nur Nuzula Ramadani
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 2 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i2.4846

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi penolakan terhadap stereotip “ibu peri” dalam album Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya karya Nadin Amizah. Nadin Amizah sering dilekatkan dengan stereotip “ibu peri” oleh para penggemarnya karena citra vokal yang lembut serta estetika visual yang identik dengan nuansa feminim dan puitis. Stereotip tersebut dapat berpotensi mengaburkan kompleksitas dari identitas seorang seniman. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Data penelitian berupa kata, frasa, dan bait dalam lirik lagu yang merepresentasikan penolakan terhadap stereotip tersebut. Pengumpulan data menggunakan teknik simak dan catat. Analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sebelas lagu dalam album tersebut, terdapat lima lagu yakni Jangan Ditelan, Rayuan Perempuan Gila, Tapi Diterima, Tawa, dan Nadin Amizah yang merepresentasikan penolakan terhadap stereotip “ibu peri” melalui tiga lapisan semiotika Barthes. Pada tingkat denotasi, lirik tersebut secara harfiah mennghadirkan diksi yang bertentangan langsung dengan citra kesucian dan kelembutan, yakni berupa pengakuan atas luka, kemarahan, dan pengalaman pahit yang selama ini tersembunyi di balik stereotip. Pada tingkat konotasi, makna tersebut berkembang menjadi bentuk resistensi tegas terhadap konstruksi sosial yang membelenggu perempuan pada citra ideal yang lembut dan sempurna, dengan menempatkan perempuan sebagai subjek yang berhak atas seluruh pengalaman emosionalnya. Sementara itu, pada tingkat mitos keseluruhan album berfungsi sebagai narasi tandingan yang secara tegas membongkar dan mendeskonstruksi mitos kesempurnaan yang melekat dalam stereotip “ibu peri”, sekaligus menegaskan identitas identitas seniman sebagai individu yang kompleks, dinamis, dan multidimensional.
Gerakan Literasi Sekolah melalui Literasi Berjalan Berbasis Bahasa, Numerasi, Sains, dan Teknologi di SMPN 1 Secang Risma Della Luna; Ulya Nurul Chasanah; Inayatu Listiya Ningsih; Nur Nuzula Ramadani; Tri Maelani; Molas Warsi Nugraheni; Saftihannu Nurrahman
Dinamika Sosial : Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Transformasi Kesejahteraan Vol. 3 No. 3 (2026): September: Dinamika Sosial : Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Transformasi Kese
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/dinsos.v3i3.3601

Abstract

School-based literacy can be fostered not only through classroom instruction but also by utilizing the physical school environment as an informal learning space. Observations at SMP Negeri 1 Secang revealed that the use of school corridors to convey educational information was suboptimal, highlighting the need for literacy resources that are easily accessible to students during their daily routines. This community service initiative aimed to transform school corridors into informal literacy spaces through the "Literasi Berjalan" program and to provide educational visual materials that encourage habitual literacy engagement among students. A service-learning approach was employed for this initiative, which was executed in four stages adapted from the ADDIE model: preparation, design and planning, implementation, and evaluation. Evaluation was conducted using a descriptive-qualitative method, involving observations of student responses and interactions, alongside the collection of feedback from both teachers and students. The initiative resulted in the creation and installation of 14 hanging information boards across various school corridors, featuring content categorized into five areas: language, numeracy, science, technology, and motivation/general knowledge. Information was presented in a concise, simple format incorporating visual elements, in accordance with Cognitive Load Theory principles. These hanging information boards provide students with independent access to educational content outside the classroom and contribute to a more information-rich school environment.