World Health Organization (WHO) tahun 2023 melaporkan prevalensi dismenore primer di dunia mencapai 50%, di Indonesia 64,25% dan menurut data Dinas Kesehatan Yogyakarta menyebutkan prevalensi dismenore sebesar 56%. Dismenore primer merupakan salah satu gangguan menstruasi yang paling umum dialami oleh remaja putri, ditandai dengan nyeri perut bagian bawah tanpa disertai penyakit reproduksi. Dismenore primer disebabkan oleh berbagai faktor risiko seperti usia menarche, keturunan atau riwayat keluarga, siklus menstruasi, lama menstruasi, indeks massa tubuh (IMT), dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan usia menarche dengan kejadian dismenore primer pada siswi kelas VII di SMP Negeri 1 Gamping. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain analitik crosssectional yang menggunakan data primer. Sampel yang digunakan sebanyak 56 remaja putri yang diambil dengan menggunakan teknik Total Sampling. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji chi-square. Dari hasil analisis IMT diperoleh 44,5% remaja putri dengan indeks massa tubuh normal dan 55,4% tidak normal, usia menarche normal 57,7% dan 49,2% tidak normal, mengalami dismenore primer 94,6% dan tidak mengalami dismenore primer 5,4%. Hasil uji chi square menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara IMT dengan kejadian dismenore primer (p = 0,083) dan antara usia menarche dengan kejadian dismenore primer (p = 0,073). Kesimpulan yang diperoleh mayoritas responden memiliki IMT dan usia menarche normal dengan mayoritas mengalami dismenore primer tetapi antara variabel tersebut tidak ada hubungan.