Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Antara Lama Hari Hospitalisasi Anak Dengan Tingkat Kecemasan Orang Tua Di Ruang Topaz RS IHC Lavalette Malang Tahun 2025 Nur Aini Isma; Erlina Suci Astuti; Nurul Pujiastuti; Supono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.387

Abstract

Hospitalisasi pada anak tidak hanya memengaruhi kondisi fisik dan psikologis anak, tetapi juga berdampak pada kondisi emosional orang tua, salah satunya berupa kecemasan yang dapat dipengaruhi oleh lama rawat inap anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama hospitalisasi anak usia 6–12 tahun dengan tingkat kecemasan orang tua di Ruang Rawat Inap Anak Topaz IHC RS Lavalette Malang. Desain penelitian menggunakan korelasional dengan pendekatan cross sectional, teknik pengambilan sampel non-probability sampling dengan metode purposive, dan jumlah sampel 30 responden sesuai perhitungan rumus Slovin. Variabel independen adalah lama hospitalisasi anak, sedangkan variabel dependen adalah tingkat kecemasan orang tua. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,809 yang berarti hubungan sangat kuat dengan p value = 0,000 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan ada hubungan signifikan antara lama hospitalisasi anak dengan tingkat kecemasan orang tua. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan kecemasan adalah pemberian edukasi oleh tim medis, gizi, dan keperawatan terkait kondisi, perawatan, serta kebutuhan nutrisi anak selama dirawat.
Hubungan Penggunaan Patient Transfer Board Pada Tahap Pra Operasi Dengan Tingkat Nyeri Dan Kenyamanan Pasien Di Ruang IB RS Wava Husada Anjas Sitares; Nurul Hidayah; Supono; Naya Ernawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.388

Abstract

Nyeri dan ketidaknyamanan merupakan masalah yang sering dialami pasien saat proses pemindahan atau transfer bed di ruang bedah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan patient transfer board pada tahap pra operasi dengan tingkat nyeri dan kenyamanan pasien di ruang IB RS Wava Husada Kabupaten Malang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional, menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 100 orang pasien pra operasi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan observasi langsung, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman’s rho. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat antara penggunaan patient transfer board dengan tingkat nyeri pasien dengan nilai koefisien korelasi -0,600 dan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), serta hubungan yang kuat antara penggunaan patient transfer board dengan tingkat kenyamanan pasien dengan nilai korelasi 0,614 dan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan patient transfer board berperan penting dalam mengurangi tingkat nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien selama proses pemindahan pra operasi. Oleh karena itu, penggunaan alat bantu pemindahan pasien seperti patient transfer board direkomendasikan untuk diterapkan secara rutin dalam pelayanan keperawatan di ruang bedah guna mendukung keselamatan dan kenyamanan pasien.
Hubungan Efikasi Diri Dengan Kepatuhan Restriksi Cairan Pada Pasien Hemodialisis Di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Chiesa Nadia Putri Benno; Supono; Maria Diah Ciptaningtyas; Tri Anjaswarni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1060

Abstract

Latar Belakang: Gagal ginjal kronik merupakan penyakit progresif yang memerlukan terapi hemodialisis seumur hidup. Kepatuhan terhadap restriksi cairan menjadi aspek penting dalam mencegah peningkatan interdialytic weight gain (IDWG) dan komplikasi serius. Namun, ketidakpatuhan masih sering terjadi pada pasien hemodialisis. Efikasi diri merupakan faktor psikologis yang diyakini berperan dalam membentuk perilaku kepatuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara efikasi diri dengan kepatuhan restriksi cairan pada pasien hemodialisis di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 83 pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis dan diambil menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner efikasi diri dan kuesioner kepatuhan restriksi cairan yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat efikasi diri kategori sedang (38,6%) dan kepatuhan restriksi cairan kategori cukup patuh (41,0%). Uji Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri dengan kepatuhan restriksi cairan dengan nilai koefisien korelasi r = 0,909 dan nilai signifikansi p < 0,001, yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan sangat kuat. Semakin tinggi tingkat efikasi diri pasien, maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan terhadap pembatasan cairan. Diskusi: Peningkatan efikasi diri melalui strategi pengaturan asupan cairan seperti edukasi berulang, pemantauan asupan cairan harian, pembatasan natrium, serta dukungan psikososial diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan restriksi cairan dan mencegah komplikasi pada pasien hemodialisis.
Hubungan Riwayat Asupan Makanan dengan Penyembuhan Luka pada Pasien Diabetes Melitus di RSI Aisyiyah Kota Malang dan RSUD Karsa Husada Kota Batu Tian Putra Adytia Wibowo; Supono; Marsaid; Nurul Pujiastuti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka diabetes melitus adalah salah satu komplikasi kronis yang sering dialami pasien dan dapat memperlambat proses penyembuhan secara signifikan. Riwayat asupan makanan menjadi faktor penting yang memengaruhi kondisi tersebut, karena pola makan yang tidak seimbang dapat menimbulkan hiperglikemia kronis, defisiensi nutrisi esensial, serta gangguan regenerasi jaringan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat asupan makanan dengan penyembuhan luka pada pasien diabetes melitus di RSI Aisyiyah Kota Malang dan RSUD Karsa Husada Kota Batu. Penelitian ini menggunakan metode “analitik observasional dan metode cross sectional”. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling sehingga didapatkan jumlah responden sebanyak 35 pasien. Instrumen yang digunakan ialah food recall 3x24 untuk menilai riwayat asupan makanan dan Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BWAT) untuk mengukur kondisi luka. Penelitian ini menggunakan Uji Spearman's Rank Correlation dan didapatkan hasil nilai korelasi sebesar -0,803 dimana p<0,05. Peneliti menyarankan perawat perlu memantau gizi dan edukasi pasien, rumah sakit memperkuat layanan holistik dengan ahli gizi, dan penelitian selanjutnya memperluas variable, menambahkan definisi luka hari pertama hingga akhir, serta observasi untuk strategi perawatan luka diabetes lebih efektif.
Hubungan Durasi Puasa Terhadap Kejadian Mual Muntah (PONV) Pada Pasien Elektif Post Operasi Dengan Anestesi Umum Devi Ayu Putri Aryandani; Supono; Kissa Bahari; Tri Nataliswati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1098

Abstract

Puasa praoperasi merupakan prosedur standar untuk mencegah aspirasi selama anestesi umum. Namun, durasi puasa yang terlalu panjang dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan meningkatkan risiko komplikasi pascaoperasi, salah satunya Postoperative Nausea and Vomiting (PONV). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara durasi puasa dengan kejadian PONV pada pasien elektif yang menjalani anestesi umum di RSI Aisyiyah Malang. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari pasien elektif yang menjalani anestesi umum dan memenuhi kriteria inklusi, dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi lembar observasi demografi serta kuesioner Rhodes Index of Nausea, Vomiting, and Retching (RINVR) untuk menilai PONV. Analisis data dilakukan menggunakan uji Rank Spearman. Sebagian besar pasien dengan durasi puasa 6–8 jam menunjukkan insidensi PONV lebih rendah dibandingkan pasien dengan durasi puasa lebih dari 8 jam. Uji statistik Rank Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara durasi puasa dengan kejadian PONV (p < 0,05). Durasi puasa praoperasi yang sesuai rekomendasi (6–8 jam) terbukti dapat menurunkan risiko PONV pada pasien elektif dengan anestesi umum. Temuan ini menegaskan untuk memperhatikan ketepatan durasi puasa pasien sesuai yang di anjurkan bagi pasien yang akan melakukan operasi dengan anestesi umum, serta memperhatikan tentang kondisi atau kenyamanan pasien post operasi.