Mahasiswa sebagai kelompok usia dewasa awal rentan mengalami emotional distress, yaitu kondisi psikologis yang mencakup stres, kecemasan, dan depresi akibat tingginya tuntutan akademik dan sosial. Emotional distress dapat memengaruhi pola makan dan mendorong munculnya perilaku makan tidak sehat seperti emotional eating, restrained eating, dan external eating. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara emotional distress dengan perilaku makan pada mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 105 mahasiswa dipilih menggunakan kuota sampling. Instrumen pengukuran meliputi Depression Anxiety Stress Scale (DASS-21) untuk emotional distress dan Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ) untuk perilaku makan. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square menggunakan tingkat signifikansi p<0,05. Mayoritas responden mengalami emotional distress tidak normal, khususnya kecemasan (97,14%). Perilaku makan kategori tinggi ditemukan pada emotional eating (76,19%), external eating (64,76%), dan restrained eating (64,76%). Terdapat hubungan signifikan antara stres dengan emotional eating, external eating, dan restrained eating; serta depresi dengan restrained eating. Penelitian ini menunjukkan bahwa emotional distress berhubungan dengan perilaku makan mahasiswa. Stres merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi emotional eating dan restrained eating, sedangkan kecemasan lebih terkait dengan external eating. Depresi cenderung memicu perilaku membatasi makan. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi kesehatan mental dan edukasi gizi dalam upaya mencegah dampak jangka panjang emotional distress terhadap perilaku makan mahasiswa.