Ma'mur, Jamal
LPPM IAIN Kudus

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MODERATISME FIKIH PEREMPUAN YUSUF AL-QARDHAWI Ma'mur, Jamal
MUWAZAH Vol 8 No 1: Juni 2016
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.371 KB)

Abstract

This paper examines the thought Yusuf al-Qardhawi about women fiqh. The theory used is maqasidus Shari'ah. The analysis used was content analysis. This research, including qualitative research because examines the idea of a character in response to public issues are very real. The results showed that, women in the time of Prophet Muhammad followed the prayer jamaah, Jum'ah prayer, the prayer of Eid fithri and Eid al-Adha.They also attended the majlis of science and even in the battlefield. Women are also allowed to work outside the home with requirements pertaining to religion and are not prohibited, consistently maintaining the ethics of Islam, and not leave its core responsibilities to her husband and children. in the context of the public, women should be leaders;and others.paper ini mengkaji pemikiran Yusuf al-Qardhawi tentang fiqh perempuan. Teori yang digunakan adalah maqasidus syari’ah (tujuan aplikasi hukum syariat). Analisis menggunakan content analysis. Penelitian termasuk penelitian kualitatif karena mengkaji gagasan seorang tokoh dalam merespons isu-isu publik yang aktual. Hasil penelitian menunjukan, bahwa perempuan masa Nabi mengikuti shalat jama’ah, shalat jum’ah, shalat idul fithri dan idul adha. Mereka juga, menghadiri majlis ilmu dan berada di medan perang. Perempuan juga boleh bekerja di luar rumah dengan syarat profesinya dibolehkan agama dan tidak diharamkan, konsisten menjaga etika Islam, dan tidak meninggalkan kewajiban utamanya kepada suami dan anak-anak; dalam konteks publik, perempuan boleh menjadi pemimpin; dan lain-lain.
Zakat Produktif: Studi Pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh Ma'mur, Jamal
RELIGIA Vol 18 No 1: April 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.787 KB) | DOI: 10.28918/religia.v18i1.624

Abstract

Zakat adalah satu-satunya rukun Islam yang secara spesifik berbicara tentang pemberdayaan ekonomi umat. Sayangnya, pola pemberian zakat selama ini bercorak konsumtif, dalam arti diberikan secara instan atau kontan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan zakat tidak mampu mengubah kemiskinan umat menuju kemandirian yang dicita-citakan Islam. KH. MA. Sahal Mahfudh yang dikenal dengan gagasan fikih sosial mengubah realitas ini. Kiai Sahal memaknai zakat sebagai ajaran Islam yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan. Zakat harus dikelola secara profesional supaya mampu mewujudkan cita-cita besar Islam, yaitu kesejahteraan dan keadilan sosial. Dalam konteks ini, zakat harus diberikan secara produktif, tidak konsumtif. Zakat produktif adalah zakat yang bisa mengeluarkan mustahik dari jurang kemiskinan menuju kemandirian dan kesejahteraan ekonomi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menjadikan dana zakat sebagai modal usaha yang dikelola secara profesional. Dalam melakukan agenda transformasi ini, Kiai Sahal membentuk teamwork yang solid dan kapabel dengan memberikan life skills kepada kelompok yang berhak menerima zakat sehingga mereka bisa mengelola dana zakat secara produktif.