Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Jam Kerja Flexibel terhadap Kepuasan Kerja, dengan Komitmen Organisasi dan Keseimbangan Kehidupan Kerja sebagai variabel mediasi pada karyawan Generasi Z di sektor manufaktur di Batam, Indonesia. Sebagai salah satu kawasan industri utama, Batam menawarkan lingkungan kerja yang beragam sehingga menjadi konteks yang relevan untuk menelaah respons generasi terhadap fleksibilitas kerja. Generasi Z dikenal memiliki preferensi yang kuat terhadap otonomi dan keseimbangan kehidupan kerja, sehingga menghadirkan ekspektasi yang unik terhadap praktik organisasi, khususnya terkait pengaturan kerja yang fleksibel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner terstruktur kepada 220 responden yang berasal dari berbagai perusahaan manufaktur di Batam. Analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS versi 4.1.9, yang memungkinkan pengujian hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel secara komprehensif. Hasil pengujian menunjukkan bahwa jam kerja fleksibel berpengaruh positif dan signifikan secara statistik terhadap komitmen organisasi, keseimbangan kehidupan kerja, dan kepuasan kerja. Selain itu, komitmen organisasi terbukti berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja serta berperan sebagai variabel mediasi yang signifikan dalam hubungan antara jam kerja fleksibel dan kepuasan kerja. Namun, berbeda dengan dugaan awal, keseimbangan kehidupan kerja tidak menunjukkan peran mediasi yang signifikan dalam hubungan tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun keseimbangan kehidupan kerja merupakan aspek yang penting bagi Generasi Z, perannya sebagai mekanisme psikologis yang menghubungkan jam kerja fleksibel dengan kepuasan kerja cenderung kurang langsung dibandingkan dengan komitmen organisasi. Temuan penelitian ini berkontribusi pada pengembangan literatur terkait fleksibilitas kerja dan dinamika tenaga kerja lintas generasi dengan menyoroti mekanisme yang mendasari pengaruh pengaturan kerja fleksibel terhadap hasil kerja karyawan. Dari sisi praktis, penelitian ini menekankan pentingnya bagi perusahaan, khususnya di sektor manufaktur, untuk menerapkan kebijakan kerja yang lebih adaptif dan fleksibel guna meningkatkan kepuasan kerja, memperkuat komitmen organisasi, serta meningkatkan retensi karyawan generasi muda. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi peran moderasi faktor budaya, organisasi, dan karakteristik personal dalam memengaruhi hubungan antarvariabel tersebut.