This article describes the use of an abusive language in gaming content produced by Silvan Vannes as a gaming YouTuber and its reproduction in Generation Z's digital communication. The study uses a sociolinguistic approach with descriptive qualitative methods. The research data consists of 20 utterances containing offensive language. The data were analyzed using taboo domain classifications including sexual taboos, body parts, animals, activities, and emotional expressions, as well as pragmatics. The results show that an abusive language in gaming YouTuber content functions not only as an expression of anger or annoyance, but also as an entertainment strategy, emotional expression, digital identity, and a marker of solidarity within the gaming community. In addition, some words experience changes in meaning through the processes of euphemism, amelioration, and pejoration, demonstrating the flexibility of meaning in digital communication. These forms of an abusive language are then reproduced by Generation Z in their online interactions across various digital communication platforms, thus shaping their language style and interaction patterns within the virtual community.. Abstrak Artike ini mendeskripsikan penggunaan bahasa kasar dalam konten gim yang diproduksi oleh Silvan Vannes sebagai You Tuber gaming serta reproduksinya dalam komunikasi digital Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan sosiolinguistik dengan metode kualitatif deskriptif. Data penelitian berupa 20 tuturan yang mengandung bahasa kasar. Data dianalisis menggunakan klasifikasi domain tabu meliputi tabu seksual, bagian tubuh, binatang, aktivitas, dan ekspresi emosional, serta pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa kasar dalam konten YouTuber gim tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi kemarahan atau kekesalan, tetapi juga sebagai strategi hiburan, ekspresi emosi, identitas digital, dan penanda solidaritas dalam komunitas gamer. Selain itu, beberapa kata mengalami perubahan makna melalui proses eufemisme, ameliorasi, dan peyorasi yang menunjukkan fleksibilitas makna dalam komunikasi digital. Bentuk bahasa kasar tersebut kemudian direproduksi oleh Generasi Z dalam interaksi daring mereka di berbagai platform komunikasi digital sehingga membentuk gaya bahasa dan pola interaksi dalam komunitas virtual.