Fredy Simanjuntak
Sekolah Tinggi Teologi Real Batam, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerjemahan Alkitab Berbasis Church-Centric Bible Translation sebagai Model Pengabdian kepada Masyarakat pada Komunitas Suku Laut Fredy Simanjuntak; Russ Perry; Matius Lim; Timotius Mangiring Tua Togatorop; Daniel Robert Tangkere
Real Coster : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 1: March 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/fecyvr44

Abstract

This community service program examines the process of Bible translation into the Seaman language, hereafter referred to as Seaman, using a church-centric Bible translation approach that places the local church and community as active participants in the translation process. The Seaman community is a coastal group facing serious challenges, including the endangerment of their mother tongue, low literacy levels, and the marginalization of cultural and religious identities. This program was implemented through collaboration between a theological institution, a Bible translation foundation, a local church, and Seaman families who still possess competence in the indigenous language. The method employed a participatory and contextual approach, involving intergenerational speakers as well as ongoing spiritual and community accompaniment. The results indicate that Bible translation functions not only as a means of Christian faith proclamation but also as a medium for language preservation, strengthening community identity, and empowering the local church in contextual mission. Furthermore, the process created spaces for interfaith dialogue within families and the wider community. This program demonstrates that Church-centric Bible translation can serve as a holistic, transformative, and relevant model of community service for indigenous and minority language communities. Keywords: bible translation, church-centric bible translation, community empowerment, community service, seaman community Abstrak Program pengabdian masyarakat ini mengkaji proses penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Seaman, selanjutnya disebut "Seaman," dengan menggunakan pendekatan penerjemahan Alkitab yang berpusat pada gereja, yang menempatkan gereja lokal dan komunitas sebagai peserta aktif dalam proses penerjemahan. Komunitas Seaman adalah kelompok pesisir yang menghadapi tantangan serius, meliputi terancamnya bahasa ibu mereka, rendahnya tingkat literasi, serta terpinggirkannya identitas budaya dan keagamaan. Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi antara lembaga teologi, yayasan penerjemahan Alkitab, gereja lokal, dan keluarga-keluarga Seaman yang masih memiliki kompetensi dalam bahasa asli tersebut. Metode yang digunakan menerapkan pendekatan partisipatif dan kontekstual, dengan melibatkan penutur antargenerasi serta pendampingan spiritual dan komunitas yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerjemahan Alkitab tidak hanya berfungsi sebagai sarana proklamasi iman Kristen, tetapi juga sebagai media pelestarian bahasa, penguatan identitas komunitas, dan pemberdayaan gereja lokal dalam misi kontekstual. Lebih lanjut, proses ini menciptakan ruang dialog antaragama dalam keluarga dan komunitas yang lebih luas. Program ini membuktikan bahwa penerjemahan Alkitab yang berpusat pada gereja dapat menjadi model pengabdian masyarakat yang holistik, transformatif, dan relevan bagi komunitas bahasa asli dan bahasa minoritas. Kata Kunci: penerjemahan Alkitab; penerjemahan Alkitab berpusat gereja; pemberdayaan komunitas; pengabdian masyarakat; komunitas Seaman
Beyond Stewardship: Toward a Batak Toba Eco-Theology of Friendship and Relational Ontology Roy Charly HP Sipahutar; Welko Henro Marpaung; Fredy Simanjuntak
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/8t41w342

Abstract

The ecological crisis in the Batak lands, manifested in flooding, landslides, pollution of Lake Toba, and forest degradation, reflects a crisis of relationship between humanity, nature, and God rooted in an anthropocentric paradigm. Although global ecotheology has critiqued this paradigm through the concept of stewardship, such an approach is considered to retain hierarchical relational structures. This article aims to formulate a Batak Toba ecotheology of friendship as a post-stewardship relational ontology by positioning local cosmology as a locus theologicus. This study employs a qualitative-theological approach using Stephen B. Bevans’s anthropological model of contextual theology, based on a literature review and critical analysis of the dialogue between the ecological crisis, Batak Toba cosmology, and Christian theological reflection. The findings indicate that the human-nature relationship in Batak Toba cosmology is genealogical and communal, whereby ecological responsibility is understood as fidelity to cosmic kinship. This paradigm offers a transformative spiritual-ethical framework for the church in responding to ecological crises in a contextual and sustainable manner. Abstrak Krisis ekologis di Tanah Batak, yang tampak dalam banjir, longsor, pencemaran Danau Toba, dan degradasi hutan, mencerminkan krisis relasi antara manusia, alam, dan Allah yang berakar pada paradigma antroposentris. Meskipun ekoteologi global telah mengkritiknya melalui konsep stewardship, pendekatan ini dinilai masih menyisakan struktur relasional yang hierarkis. Artikel ini bertujuan merumuskan ekoteologi persahabatan Batak Toba sebagai ontologi relasional pasca-stewardship dengan menjadikan kosmologi lokal sebagai locus theologicus. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-teologis melalui metode teologi kontekstual model Antropologi Stephen B. Bevans, berbasis studi pustaka dan analisis kritis atas dialog antara krisis ekologis, kosmologi Batak Toba, dan refleksi teologis Kristen. Melalui dekonstruksi teks-teks kultural, kajian ini mengonstruksi ulang relasi manusia-alam dalam kosmologi Batak Toba yang bersifat genealogis dan komunal menjadi sebuah etika kesetiaan kosmik. Kebaruan yang ditemukan adalah konseptualisasi hubungan non-hierarkis di mana alam bertindak sebagai subjek mitra, yang menawarkan kerangka spiritual-etis bagi gereja dalam merespons krisis ekologis secara kontekstual dan berkelanjutan.