Yanuar Jak
Universitas Respati Indonesia, Jakarta, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Metode Workload Indicator Staff Need dalam Menganalisis Kebutuhan Dokter Jaga di Rumah Sakit BSH Bogor Albert Santoso; Cicilia Windiyaningsih; Yanuar Jak
Jurnal Ilmu Manajemen Terapan Vol. 7 No. 4 (2026): Jurnal Ilmu Manajemen Terapan (Maret - April 2026)
Publisher : Dinasti Review Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jimt.v7i4.8130

Abstract

Kemitraan RS BSH Bogor dengan BPJS Kesehatan sejak Mei 2025 memicu lonjakan kunjungan IGD sebesar 133% hanya dalam tiga bulan pertama. Fenomena ini menciptakan tekanan operasional bagi 9 dokter jaga yang bertugas dalam sistem rotasi unit IGD dan Rawat Inap. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan dokter jaga melalui komparasi ganda antara Metode WISN dan Metode Ilyas, serta mengeksplorasi persepsi beban kerja dokter di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Mixed Methods dengan desain Concurrent Triangulation. Data kuantitatif berasal dari data sekunder dan observasi Time and Motion Study melalui CCTV selama 14 hari. Data kualitatif digali melalui wawancara mendalam terhadap 9 dokter jaga dan 2 manajer. Hasil Penelitian menemukan "paradoks metodologis" di mana metode WISN (mikro) menetapkan kebutuhan 10 dokter, sedangkan metode Ilyas (makro) menunjukkan surplus semu (8 dokter). Secara kuantitatif, WISN mengungkap administrative overload; tugas administrasi JKN menyita waktu 59,5 menit per pasien, melampaui waktu pelayanan klinis (45,5 menit). Secara kualitatif, ditemukan fenomena "dokter klerikal", di mana dokter merasa terjebak dalam rutinitas administratif yang redundan akibat praktik double input (penginputan ganda manual dan digital). Metode WISN terbukti jauh lebih peka menangkap dinamika beban kerja riil di era JKN dibandingkan metode Ilyas. Analisis membuktikan bahwa mempertahankan jumlah 9 dokter saat ini berisiko tinggi terhadap terjadinya medical error dan kelelahan kerja ekstrem (burnout). RS BSH direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan 10 dokter, mengadopsi sistem medical scribe, serta melakukan integrasi digital total guna mengeliminasi inefisiensi akibat double input.
Analisis Waktu Tunggu Farmasi Rawat Jalan Menggunakan Lean-DMAIC Andy Susanto; Yanuar Jak; Achda Ferdians
Indonesian Journal of Hospital Administration Vol 9 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Alma Ata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijhaa.2026.9(1).41-61

Abstract

Waktu tunggu pelayanan farmasi rawat jalan merupakan indikator mutu rumah sakit yang berpengaruh terhadap kepuasan dan keselamatan pasien. Ketidaksesuaian waktu tunggu dengan standar mencerminkan adanya variasi dan inefisiensi dalam alur pelayanan yang berdampak pada persepsi kualitas dan kinerja pelayanan farmasi. Rumah Sakit Umum (RSU) X Pontianak menghadapi proporsi pelayanan yang belum memenuhi standar waktu tunggu sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan waktu tunggu pelayanan farmasi rawat jalan, mengidentifikasi aktivitas non-value added, serta menentukan akar penyebab lamanya waktu tunggu menggunakan pendekatan Lean Management dengan metode DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan deskriptif statistik melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi pada Juni–Agustus 2025. Untuk mencapai tujuan penelitian, analisis difokuskan pada tahap Analyze, menggunakan alat bantu Suppliers-Inputs-Process-Outputs-Customers (SIPOC), check sheet, histogram, diagram Pareto, fishbone diagram, dan 5 Why Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian pelayanan farmasi rawat jalan belum memenuhi standar waktu tunggu. Proporsi pelayanan yang tidak sesuai standar sebesar 12,8–14,2% pada obat racikan dan 15,2–41,1% pada obat non-racikan. Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya variasi proses dan aktivitas non-value added yang berkontribusi terhadap lamanya waktu tunggu pelayanan. Permasalahan utama yang ditemukan meliputi alur pelayanan yang panjang dan manual akibat kendala Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), belum adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) pembagian tugas yang jelas, serta tidak adanya pemisahan antrian obat racikan dan non-racikan. Penelitian menyimpulkan bahwa pendekatan Lean Management dengan metode DMAIC pada tahap Analyze mampu mengidentifikasi pemborosan proses dan akar penyebab utama keterlambatan pelayanan farmasi rawat jalan
RECORDING GLOBAL VOICES: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW IN PATIENT SAFETY CULTURE SURVEYS Yanuar Jak; Santi Anugrahsari
Indonesian Journal of Health Administration (Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia) Vol. 13 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jaki.v13i2.2025.232-241

Abstract

Background: Measurement of patient safety culture is often conducted using various questionnaire methods and multiple respondents. Patient safety culture cannot be ignored; therefore, understanding these results is crucial for further study. Aim: To investigate the results of measuring patient safety culture in hospitals across various countries. Method: This study is a systematic literature review of articles published between 2013 and 2023. The selection process followed the PRISMA, which included identification, screening, eligibility, and inclusion. Selected articles were evaluated for quality, and the data were then analyzed thematically to identify instruments, approaches, and challenges in measuring patient safety culture. Results: The systematic review identified 45 relevant studies. The HSOPSC instrument was the most widely used, followed by the SAQ and the PSFHI, with varying local adaptations. The analysis revealed challenges with instrument reliability, differences in cultural contexts, and resource limitations. These findings promoted standardization and local adaptation in measuring patient safety culture. Conclusion: After 24 years of global recognition of patient safety, this study confirms that measuring patient safety culture is a strategic pillar in hospital quality improvement. This finding has academic and practical values, supporting cultural improvement strategies and evidence-based patient safety policies. Keywords: Doctor, Hospital Community, Hospital, Nurse, Patient Safety Culture